1 Petrus 2:21 (TB) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Di sebuah sekolah dasar, ada seorang anak bernama Rian yang sedang belajar menulis tegak bersambung. Tulisannya awalnya sangat berantakan dan sulit dibaca.
Suatu hari, gurunya memberikan sebuah buku latihan khusus. Di bagian atas setiap halaman, sang guru telah menuliskan contoh huruf yang sangat rapi dan indah dengan tinta emas. Tugas Rian sangat sederhana namun butuh kesabaran: ia harus menaruh kertas tipis di atas tulisan gurunya, lalu menjiplak setiap lengkungan huruf itu setepat mungkin.
Awalnya, tangan Rian terasa pegal. Ia tergoda untuk menulis dengan caranya sendiri yang lebih cepat agar bisa segera bermain. Namun, ketika ia mencoba menulis tanpa melihat contoh, tulisannya kembali berantakan dan keluar jalur.
Rian akhirnya sadar: satu-satunya cara agar tulisannya menjadi indah adalah dengan menekan egonya, memperlambat gerakannya, dan mengikuti setiap goresan pensil yang sudah ditinggalkan oleh gurunya. Semakin sering ia menjiplak dengan sabar, lambat laun tangannya terbiasa menulis dengan indah, bahkan tanpa kertas jiplakan lagi.
Sama seperti Rian yang harus menjiplak tulisan gurunya, kita dipanggil untuk “menjiplak” cara hidup Yesus. Hal praktis yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari :
Merespons ketidakadilan dengan kasih
Ketika Saudara difitnah oleh rekan kerja atau mendapat kritik pedas yang tidak berdasar dari atasan, jangan membalas dengan kemarahan atau mencari cara untuk balik menjatuhkan. Teladani Yesus yang tidak membalas dengan makian saat Ia dicaci maki. Tetap tunjukkan kinerja terbaik dan integritas.
Sabar dalam menghadapi penderitaan
Ketika Saudara mengalami masa-masa sulit (masalah keuangan, kesehatan, atau keluarga) meskipun merasa sudah hidup benar, jangan bersungut-sungut atau menyalahkan Tuhan. Pandang penderitaan sebagai proses pemurnian iman dan kesempatan untuk menunjukan kedewasaan rohani.
Mengutamakan kepentingan orang lain (menjadi hamba yang melayani)
Saat Saudara lelah setelah pulang kerja, namun ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan atau teman yang butuh didengarkan, tekan ego dan kenyaman pribadi. Ambil waktu sejenak untuk melayani mereka dengan tulus, sama seperti Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
Jejak kaki Kristus tidak pernah salah arah; saat kita memilih menapakinya hanya ego kita yang mati, namun karakter kita yang dihidupkan. #KS