Amsal 14:30 (TB) Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
Ada orang yang secara fisik terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hatinya masih menyimpan luka. Ada yang tersenyum tetapi sebenarnya kecewa. Ada yang terlihat tenang tetapi menyimpan kemarahan. Ada yang berkata sudah memaafkan, tetapi setiap kali mengingat kejadian itu, hatinya kembali terluka. Firman Tuhan berkata: “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Perhatikan kata “membusukkan tulang.” Tulang berada di bagian paling dalam dari tubuh kita. Ini menggambarkan sesuatu yang bekerja dari dalam, tidak selalu terlihat dari luar, tetapi perlahan-lahan merusak kehidupan kita.
Demikian juga dengan kepahitan, iri hati, kemarahan, kekecewaan, dan luka yang tidak diserahkan kepada Tuhan.
1. Kepahitan yang disimpan akan menggerogoti hati. Sering kali kita berpikir bahwa ketika seseorang menyakiti kita, maka kita yang menjadi korban. Tetapi ketika kita terus menyimpan kepahitan, sebenarnya kita sedang membiarkan luka itu tinggal di dalam diri kita. Kita memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tetapi kita bisa memilih apakah luka itu akan terus menguasai hati kita atau kita menyerahkannya kepada Tuhan. Ibrani 12:15 mengingatkan kita untuk berjaga-jaga supaya jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusakan.
2. Iri hati membuat kita kehilangan damai. Amsal mengatakan bahwa iri hati membusukkan tulang. Mengapa iri hati begitu berbahaya? Karena iri membuat kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Tanpa kita sadari, kita mulai melihat berkat orang lain sebagai ancaman terhadap kehidupan kita. Padahal Tuhan tidak pernah meminta kita menjalani kehidupan orang lain. Tuhan memanggil kita untuk menjalani bagian kita sendiri bersama-Nya. Ketika kita terus membandingkan diri, kita akan sulit bersyukur. Karena itu, damai sejahtera bukan hanya tentang memiliki apa yang kita inginkan. Damai sejahtera adalah ketika hati kita belajar berkata: “Tuhan, aku percaya bahwa apa yang Engkau berikan kepadaku cukup, dan waktu-Mu adalah yang terbaik.”
3. Tidak semua luka harus kita bawa selamanya. Mungkin ada di antara kita yang hari ini masih membawa luka. Luka karena perkataan orang tua, Luka karena pasangan, Luka karena teman, Luka karena dikhianati. Atau mungkin luka karena sesuatu yang sampai hari ini tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Kita tidak dipanggil untuk menyangkal luka. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, Tetapi kita perlu membawa luka itu kepada Tuhan. Mazmur 147:3 berkata: “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” Perhatikan: Tuhan bukan hanya melihat hati yang terluka. Tuhan menyembuhkan. Tuhan sanggup masuk ke tempat terdalam dalam hati kita yang tidak bisa dijangkau oleh manusia dan memberikan ketenangan
Hati yang tenang membawa kesegaran, Amsal 14:30 memberikan sebuah kontras: Hati yang tenang menyegarkan tubuh.Artinya, ketika hati kita berada dalam damai Tuhan, ada kesegaran yang berbeda dalam kehidupan kita. Kita mungkin belum memiliki semua jawaban. Masalah mungkin belum selesai, Orang yang menyakiti kita mungkin belum meminta maaf, Situasi pekerjaan mungkin belum berubah, Keadaan keluarga mungkin belum seperti yang kita harapkan. Tetapi hati kita bisa tetap tenang karena kita tahu: Tuhan masih memegang hidup kita, Damai sejahtera Allah bukan berarti tidak ada masalah. Damai sejahtera Allah berarti di tengah masalah, kita tidak kehilangan Tuhan. FirmanNya berkata bahwa damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Jadi, yang perlu kita ubah tidak selalu keadaan kita.Kadang Tuhan terlebih dahulu ingin memulihkan hati kita. #VM