Kolose 2:15 (TB) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.
Nicky Cruz tumbuh dalam kegelapan yang pekat. Lahir dari orang tua yang terlibat dalam praktik okultisme di Puerto Riko, masa kecilnya dipenuhi kekerasan. Ketika pindah ke New York, kegelapan itu tidak pergi—justru makin menjadi-jadi. Ia menjadi pemimpin geng jalanan yang sangat ditakuti: Mao Mao. Hidupnya dikuasai rasa benci, kepahitan, pecandu narkoba, dan pikiran destruktif. Banyak psikolog bahkan menyatakan bahwa Nicky adalah sosok yang “tidak punya hati” dan tidak bisa diubah. Kegelapan seolah telah membelenggu hidupnya tanpa jalan keluar.
Namun, segalanya berubah ketika seorang penginjil bernama David Wilkerson memberanikan diri mendekatinya. David tidak membalas ancaman Nicky, melainkan menyatakan satu kebenaran sederhana: “Nicky, Yesus mengasihimu.”
Pernyataan itu mengusik fondasi kegelapan dalam diri Nicky. Hingga pada suatu malam, Nicky memutuskan untuk menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Di hadapan salib Yesus, belenggu kebencian, kecanduan, dan kuasa kegelapan yang mengikatnya selama bertahun-tahun runtuh seketika. Nicky dilahirkan kembali, dan pria yang dulunya membawa ketakutan kini berubah menjadi pelayan Tuhan yang membawa harapan bagi jutaan anak muda di seluruh dunia.
Kisah Nicky Cruz adalah cermin nyata dari apa yang ditulis Rasul Paulus dalam Kolose 2:15. Kata “melucuti” dalam bahasa aslinya menggambarkan tindakan seorang jenderal perang yang menang, lalu merampas seluruh senjata musuhnya dan mempermalukan mereka di hadapan publik.
Di atas kayu salib, kelihatannya Yesus yang kalah dan terpuruk. Namun, kebenaran ilahi menyatakan hal sebaliknya: Salib adalah panggung kemenangan terbesar sepanjang sejarah.
Melalui pengorbanan-Nya, Yesus tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga menghancurkan otoritas iblis dan kuasa kegelapan. Musuh tidak lagi memiliki hak legal untuk mengintimidasi, menguasai, atau menghakimi hidup kita.
Sering kali, dalam kehidupan sehari-hari, kita masih merasa terbayang-bayang oleh sisi-sisi gelap—baik itu trauma masa lalu, kebiasaan buruk yang sulit dilepas, kepahitan, ketakutan akan masa depan, atau rasa bersalah yang menghantui. Kita merasa seolah-olah kegelapan itu masih berkuasa. Namun ingatlah, iblis sering kali menggunakan gertakan palsu. Senjatanya sudah dilucuti di kayu salib. Kuasanya atas hidup orang percaya sudah dipatahkan!
Ketika kegelapan mencoba menyusup dan membelenggu pikiran serta hati Saudara, bangkitlah dan proklamasikan kemenangan Kristus. Saudara tidak sedang berjuang untuk mencari kemenangan, melainkan berjuang dari posisi kemenangan yang sudah Yesus sediakan.
Di Kayu Salib, Tuhan Yesus sudah menang—termasuk terhadap sisi-sisi gelap yang mencoba membelenggu kita. Hidup dalam Kristus berarti hidup sebagai pemenang. Jangan biarkan belenggu yang sudah dipatahkan kembali mengikat Saudara, sebab kegelapan telah kalah mutlak! #MST