2 Timotius 1:2 (TB) kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Perikop ini adalah bicara berkenaan dengan bagaimana isi hati Paulus dinyatakan kepada Timotius. Ini adalah suatu surat yang sifatnya benar-benar pribadi, tetapi, meskipun pribadi, ada suatu tugas, mandat yang dibebankan oleh Paulus kepada Timotius sebelum Paulus meninggal. Satu mandat yang penting di dalam perikop ini adalah Paulus memberikan mandat untuk memastikan Timotius menjalankan kontinuitas pemuridan. Dalam 2 Timotius, yang merupakan surat Paulus yang terakhir sebelum meninggal, Paulus menyadari bahwa hari-harinya tidak akan lama lagi. Dia ingin memastikan bahwa pekerjaan Injil tetap dilakukan dan dipercayakan pada orang-orang yang tepat. Tidak mengherankan apabila dalam tugas regenerasi ini Paulus ingin menjadikan Timotius sebagai salah satu agen utama di dalam pelayanan penggembalaan dan pemuridan pada jemaat mula-mula. Selain mengajarkan pengetahuan, Paulus juga membagikan kehidupan (3:10 “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”).

Ajaran dan keteladanan adalah warisan kehidupan yang paling mahal. Warisan ini pada akhirnya bukan hanya untuk disimpan, tetapi diwariskan ulang. Begitu berharganya warisan ini, kita tidak boleh menyerahkannya kepada sembarang orang. Paulus menasihati Timotius untuk mempercayakan itu pada orang yang tepat. Penerima warisan rohani ini harus “dapat dipercaya”. Kata Yunani pistos bisa berarti “setia” atau “dapat dipercaya”. Dua arti ini juga didukung oleh konteks (ayat 11 “perkataan ini benar”; ayat 13 “Dia tetap setia”).

Arti mana yang lebih sedang dipikirkan oleh Paulus sukar untuk ditentukan. Dia mungkin sedang mengajarkan bahwa kita harus dapat dipercaya, dan hal ini tidak boleh berubah dalam diri kita (setia). Selain “dapat dipercaya”, penerima warisan rohani juga harus “cakap mengajar”. Cakap disini tidak harus merujuk pada kefasihan dan kehebatan dalam menyampaikan sesuatu. Paulus tampaknya lebih menekankan kemampuan dalam menyampaikan materi, bukan ketrampilan dalam menyampaikannya. Apa yang disampaikan lebih penting daripada cara penyampaian. Kebenaran dan kejelasan harus diutamakan daripada penampilan.
Menemukan orang yang bisa dipercaya sekaligus cakap dalam mengajar jelas tidak gampang. Tidak banyak orang yang memenuhi dua kriteria ini sekaligus. Satu-satunya cara untuk mendapatnya adalah pemuridan.

Pemimpin menginvestasikan waktu, perhatian dan tenaga pada orang-orang tertentu. Bukan dalam arti favoritisme. Bukan pula diskriminasi. Dengan berfokus pada calon-calon pemimpin, seorang pemimpin justru akan mampu menjawab lebih banyak pertanyaan dan kebutuhan dari orang-orang yang dia pimpin. Mencetak pengikut lebih penting daripada menghasilkan banyak penggemar. Penggemar hanya akan menjadi objek pelayanan. Pengikut kelak akan menjadi pemimpin. Pemimpin yang memuridkan, pemimpin di generasi berikutnya. Itulah orang tua secara rohani.

Timotius adalah salah satu anak rohani yang berhasil dilahirkan Rasul Paulus dari pelayanan pembapakan nya. Timotius menjadi pelayan Tuhan yang luar biasa dan membawa banyak orang mengenal Kasih Karunia Tuhan Yesus. #YA