“Supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milik-Mu sendiri.” Mazmur 106:5

Kita hidup di dunia yang sering kali mengukur kebahagiaan dari seberapa banyak “milik pribadi” yang bisa kita kumpulkan. Kita bekerja keras untuk mengumpulkan harta, mengejar karier, dan membangun reputasi demi kenyamanan diri sendiri. Namun, pemazmur dalam Mazmur 106:5 mengajak kita melihat berkat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda: sebagai bagian dari milik Tuhan.

Pemazmur tidak sedang berdoa meminta berkat egois untuk sekadar dipamerkan. Kerinduan terbesarnya adalah melihat kebaikan orang-orang pilihan Tuhan, bersukacita bersama umat-Nya, dan bermegah sebagai bagian dari milik pusaka Allah.
Ketika kita menyadari bahwa status kita adalah “milik pusaka Tuhan” (umat kesayangan-Nya), cara kita memandang berkat akan berubah total. Berkat bukan lagi tentang “Ini hasil usahaku untuk kehebatanku,” melainkan “Ini adalah kebaikan Tuhan yang dipercayakan kepadaku untuk mendatangkan sukacita bagi sesama.”

Bagaimana kita bisa benar-benar menikmati berkat sebagai milik Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?
Lepaskan Kepemilikan Mutlak: Sadarilah bahwa semua yang kita miliki talenta, kesehatan, materi, bahkan keluarga—adalah titipan. Ketika kita menganggapnya sebagai milik Tuhan, kita tidak akan menjadi sombong saat berkelimpahan, dan tidak akan runtuh saat kehilangan.

Berbagi Bersama “Umat-Nya”: Sukacita sejati dari sebuah berkat justru muncul saat berkat itu mengalir kepada orang lain. Kita dipanggil untuk bersukacita dalam sukacita umat-Mu. Keberhasilan kita harus menjadi berkat bagi komunitas, gereja, dan sesama yang membutuhkan.
Bermegah Hanya di Dalam Tuhan: Dunia mengajarkan kita untuk bermegah atas pencapaian pribadi. Tetapi sebagai milik pusaka Allah, kemegahan kita adalah karena kita mengenal Allah yang setia, yang kebaikan-Nya tidak pernah habis bahkan ketika umat-Nya sering kali gagal (seperti yang diceritakan di sepanjang Mazmur 106).

Rasa syukur yang egois hanya akan membuat kita haus akan lebih banyak materi. Namun, rasa syukur yang berpusat pada Tuhan akan melahirkan kepuasan batin yang sejati. Dan hendaklah kita sebagai sesama milik Kristus kita bersukacita menikmati kehidupan yang diberikan dan saling menguatkan dalam kehidupan ini. #NS