2 Timotius 2:7 (TB) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.
Sebuah kisah nyata yang indah tentang hal ini datang dari Dawson Trotman, pendiri The Navigators, sebuah pelayanan pemuridan global. Trotman adalah seorang bapa rohani bagi ribuan anak muda pada abad ke-20. Ia dikenal sangat disiplin dalam melatih orang lain untuk membaca Alkitab dan berdoa. Suatu hari, seorang pemuda yang ia mentor datang kepadanya dengan tumpukan masalah hidup yang rumit dan meminta keputusan langsung dari Trotman tentang apa yang harus ia lakukan. Trotman tidak langsung memberikan jawaban instan atau mendikte hidup pemuda tersebut. Sebaliknya, ia menepuk bahu pemuda itu, mengajaknya berlutut, dan berkata, “Mari kita bertanya kepada Pemimpin kita yang sebenarnya.” Trotman sengaja menahan diri untuk tidak menjadi ‘pahlawan’ yang menyelesaikan semua masalah. Ia memaksa anak rohaninya untuk mencari Tuhan sendiri di dalam doa dan merenungkan Firman-Nya sampai pengertian itu datang dari Roh Kudus. Hasilnya, pemuda tersebut bertumbuh menjadi pemimpin yang mandiri dan berakar kuat di dalam Tuhan, bukan di dalam figur Dawson Trotman.
Dalam sebuah hubungan pemuridan atau bimbingan rohani, ada sebuah kecenderungan yang sering kali tidak kita sadari: figur seorang mentor atau “bapa rohani” menjadi begitu dominan. Sering kali, seorang anak rohani menjadi sangat bergantung pada hikmat, nasihat, dan kehadiran mentornya secara fisik. Sebaliknya, sang mentor pun bisa terjebak dalam ego untuk menjadi pusat perhatian dan penentu utama dalam setiap keputusan hidup anak rohaninya. Namun, Firman Tuhan hari ini memberikan sebuah perspektif yang meluruskan posisi tersebut.
Ketika Rasul Paulus memberikan nasihat kepada Timotius, anak rohani yang sangat dikasihinya, ia tidak mengatakan, “Perhatikanlah apa yang kukatakan, karena akulah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hidupmu.” Paulus tidak sedang membangun sebuah kultus individu atau ketergantungan kepada dirinya sendiri. Kalimatnya justru mengandung kerendahan hati yang luar biasa: “Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian…”
Paulus menyadari batas kemampuannya sebagai manusia. Ia tahu bahwa ia bisa mengajar, menegur, dan memberikan arahan, tetapi pemberi pengertian yang sejati, pengubah hati, dan sumber hikmat yang sesungguhnya adalah Tuhan sendiri.
Seorang bapa rohani yang dewasa secara rohani tidak akan mengikat anak rohaninya kepada dirinya sendiri, melainkan menuntun tangan anak rohaninya untuk memegang erat tangan Tuhan. Fokus pelayanan Paulus bukanlah tentang seberapa hebat ia sebagai mentor, melainkan seberapa besar Tuhan bekerja dalam diri Timotius. Ketika seorang bapa rohani berfokus pada Tuhan, ia sedang mengarahkan pandangan anak rohaninya kepada Sumber Hidup yang tidak pernah mengecewakan, sehingga ketika sang bapa rohani tidak lagi bersama mereka, iman anak-anak rohani tersebut tetap berdiri teguh di atas batu karang yang kokoh.
Seorang bapa yang benar ketika mementor tidak berfokus pada dirinya tetapi kepada Tuhan. Peran seorang mentor atau bapa rohani adalah menjadi penunjuk jalan, bukan tujuan akhir. Mari kita belajar untuk selalu mengarahkan fokus kita dan orang-orang yang kita layani hanya kepada Tuhan Yesus, karena Dialah satu-satunya yang mampu memberikan. #MST