Titus 2:15 (TB) Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah.

Masa muda adalah masa yang paling krusial dalam hidup seseorang. Ini adalah fase pencarian jati diri, sebuah jembatan dinamis antara masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Namun, di era digital dan modern ini, pencarian jati diri tersebut dipenuhi dengan “suara-suara” dunia yang begitu bising—mulai dari tren media sosial, tekanan teman sebaya, hingga standard kesuksesan semu yang ditawarkan dunia. Jika tidak dijaga, generasi muda kita sangat rentan jatuh ke dalam tipu daya yang menjauhkan mereka dari rancangan Allah.

1) Panggilan untuk “Membapaki”
Melalui suratnya kepada Titus, Rasul Paulus memberikan teladan yang luar biasa tentang bagaimana “membapaki” seorang pemimpin muda. Titus yang masih muda diutus ke Kreta—sebuah lingkungan yang terkenal moralnya rusak. Paulus tidak sekadar melepas Titus begitu saja. Ia mengayomi, memberikan pedoman hidup yang jelas, dan membangun mentalitas Titus agar tidak minder atau goyah.
“Membapaki” bukan sekadar mengajar atau menghakimi ketika mereka salah. “Membapaki” berarti:
– Hadir di masa-masa membingungkan mereka.
– Mendengarkan kegelisahan hati mereka tanpa cepat menghakimi.
– Mentransfer hidup, karakter, dan iman melalui teladan nyata, bukan cuma kata-kata.

2) Berani Menyatakan Kebenaran dengan Kasih
Generasi muda hari ini tidak butuh khotbah yang teoritis; mereka butuh otentisitas. Ketika kita membapaki mereka, kita dipanggil untuk berani menegur saat mereka keliru, namun merangkul mereka agar tidak putus asa. Kewibawaan sejati muncul bukan dari sikap otoriter, melainkan dari hidup yang selaras dengan firman Tuhan. Ketika mereka melihat iman yang hidup dalam diri kita, mereka akan menemukan jangkar yang kuat di tengah badai pencarian jati diri mereka.

3) Goal Akhir: Generasi yang Memuliakan Tuhan
Mengapa kita harus berjuang keras demi mereka? Agar mereka tidak menjadi “korban” dari tipu daya dunia yang menawarkan kesenangan sesaat namun berujung maut. Kita rindu melihat generasi muda yang berkualitas—yaitu mereka yang tahu persis siapa identitas mereka di dalam Kristus.
Ketika seorang anak muda tahu bahwa ia berharga di mata Tuhan, ia tidak akan mengemis pengakuan dari dunia.

Melahirkan generasi muda yang berkualitas adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak boleh membiarkan mereka berjalan sendirian di tengah rimba dunia yang membingungkan ini.
Mari kita ambil komitmen hari ini untuk menjadi “bapa-bapa rohani” dan “ibu-ibu rohani” yang siap menuntun, mendoakan, dan mengarahkan mereka. Mari kita investasikan waktu, kasih, dan doa kita agar generasi muda kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berdampak, dan seluruh hidupnya memuliakan nama Tuhan. #A