Yohanes 17:9-10 (TB) “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.”

Siska adalah seorang analis data di sebuah perusahaan teknologi yang kompetitif. Selama tiga bulan, ia bekerja lembur hingga larut malam untuk menyusun sebuah strategi efisiensi biaya perusahaan. Ia mencurahkan seluruh kemampuan, ketelitian, dan doa ke dalam proyek tersebut.
Namun, pada hari presentasi besar di depan direksi, Rama—atasan langsung Siska—mengambil seluruh hasil kerja Siska. Rama mempresentasikan laporan itu seolah-olah itu adalah murni ide dan hasil kerja kerasnya sendiri. Direksi memuji Rama habis-habisan, sementara nama Siska sama sekali tidak disebut.

Siska merasa sangat sakit hati, kecewa, dan dikhianati. Dunia kerja di sekitarnya seolah berbisik untuk membalas dendam: “Sabotase saja proyek berikutnya,” atau “Mulai sekarang bekerja asal-asalan saja.”
Malam itu, Siska mengambil waktu untuk berdoa dan merenungkan identitasnya. Ia tersadar bahwa kebahagiaan dan nilai dirinya tidak boleh digantungkan pada pujian direksi atau pengakuan atasannya (dunia). Ia adalah milik Tuhan. Pekerjaannya adalah bentuk ibadahnya kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Esok harinya, Siska tetap datang ke kantor dengan senyuman. Ia tidak mogok kerja, tidak menyebarkan gosip buruk tentang Rama, dan tetap menyelesaikan tugas-tugas berikutnya dengan kualitas terbaik. Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah proyek baru yang lebih rumit, direksi menyadari bahwa Rama tidak menguasai detail teknis, sementara Siska dengan sangat tenang dan cerdas mampu menjelaskan semuanya. Direksi akhirnya melihat kebenaran yang sesungguhnya. Siska dipromosikan, dan yang luar biasa, Siska tetap memperlakukan Rama dengan rasa hormat tanpa ada rasa dendam.

Dari ilustrasi di atas, ada tiga nilai teladan hidup kristiani dalam dunia kerja yang mencerminkan Yohanes 17:9-10:

Audience of One (Bekerja untuk Satu Penonton):
Siska meneladani prinsip bahwa pemilik hidupnya adalah Tuhan. Ketika kita sadar kita adalah milik Tuhan, kita tidak akan menjadi “pencari pujian manusia” (men-pleaser). Kita bekerja dengan standar terbaik karena tahu bahwa Tuhan adalah Bos Utama kita yang melihat segala jerih payah kita, bahkan saat manusia mengabaikannya.

Integritas yang Tidak Goyah oleh Lingkungan:
Dunia kerja sering kali penuh dengan politik kantor, saling sikut, dan kecurangan. Nilai teladannya adalah menolak untuk menjadi sama dengan dunia. Ketika orang lain berbuat curang atau tidak adil kepada kita, kita tidak membalasnya dengan cara yang kotor. Karakter kita harus tetap murni karena disanalah Kristus dipermuliakan.

Pengampunan yang Membebaskan
Siska memilih untuk tidak menyimpan kepahitan. Menyimpan dendam hanya akan membuat produktivitas kerja kita rusak dan merenggut kedamaian hati.

Dengan melepaskan pengampunan, kita membuktikan bahwa kita dikuasai oleh kasih Kristus, bukan dikuasai oleh rasa sakit hati dari dunia. #KS