Efesus 5:2 (TB) dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Bayangkan sebuah lilin yang dinyalakan di tengah ruangan yang gelap. Lilin itu memberikan terang, tetapi untuk memberikan terang, lilin tersebut harus rela meleleh sedikit demi sedikit. Ia tidak menyimpan cahayanya untuk dirinya sendiri. Ia memberi, ia menerangi, ia mengorbankan dirinya agar orang lain dapat melihat jalan. Demikianlah gambaran kasih yang sejati. Kasih bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi. Kasih bukan hanya tentang diperhatikan, tetapi juga memperhatikan. Kasih bukan hanya tentang dilayani, tetapi juga melayani.

Kristus telah memberikan teladan hidup dalam kasih Allah. Kasih-Nya bukan kasih yang egois. Kasih-Nya bukan kasih yang hanya mencari keuntungan. Kasih-Nya adalah kasih yang rela menyerahkan diri-Nya bagi kita. Yesus mengasihi kita dengan tindakan nyata, bahkan sampai menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Sering kali kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Namun, kasih yang sejati harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kita sedang hidup dalam kasih. Ketika kita menolong tanpa mengharapkan balasan, kita sedang hidup dalam kasih. Ketika kita tetap berbuat baik meskipun tidak diperlakukan dengan baik, kita sedang hidup dalam kasih.
Kasih Kristus mengajarkan bahwa hidup kita bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri. Tuhan rindu agar melalui perkataan, sikap, tindakan, dan pengorbanan kita, orang lain dapat merasakan kasih-Nya. Mungkin kita tidak mampu melakukan hal yang besar, tetapi kita dapat memulai dari hal-hal kecil: tersenyum, mengampuni, menolong, mendengarkan, dan mendoakan.

Mari kita terus belajar hidup dalam kasih. Percayalah Tuhan mempukan kita untuk melewati segala keadaan dengan kasih itu. #YS