Ibrani 2:15 (TB) “dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”
Sebuah kapal pesiar besar yang sedang berlayar di tengah samudra luas. Tiba-tiba, kapal tersebut menabrak karang dan lambungnya bocor. Air mulai masuk dengan cepat. Sirene bahaya berbunyi, dan kepanikan luar biasa melanda seluruh penumpang.
Orang-orang mulai berteriak, saling sikut, dan berebut sekoci. Ada yang menangis histeris, ada yang mengurung diri di kamar karena putus asa, dan ada yang tega mencelakai orang lain demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Rasa takut mati telah mengubah mereka menjadi “budak” dari ego dan kepanikan mereka sendiri. Mereka kehilangan akal sehat dan kasih.
Di tengah kekacauan itu, kapten kapal yang sangat tenang mengumumkan melalui pengeras suara: “Harap tenang! Jangan panik! Di belakang kapal kita, sudah ada kapal penyelamat raksasa milik pangkalan militer yang telah merapat dan mengunci posisi kapal kita. Semua penumpang dipastikan aman dipindahkan. Jalur evakuasi sudah siap.”
Mendengar pengumuman dari kapten yang otoritasnya teruji, sebagian penumpang langsung berubah total. Mereka tidak lagi takut. Mereka berhenti berebut, mulai membantu anak-anak dan lansia, serta berjalan ke jalur evakuasi dengan tenang. Kapal mereka memang sedang tenggelam (gambaran tubuh fisik yang menuju kematian), tetapi karena ada kepastian keselamatan yang menjamin mereka, mereka bebas dari ketakutan.
Dunia ini seperti kapal yang sedang tenggelam menuju maut. Orang yang tidak mengenal Kristus akan hidup dalam kepanikan rohani (diperbudak rasa takut). Namun, Yesus adalah Kapten yang telah menyediakan “kapal penyelamat” melalui kebangkitan-Nya. Kita tidak lagi takut pada kehancuran fisik karena tahu masa depan kekal kita sudah aman.
Renungan hari ini mengingatkan kita:
-Nilai ketenangan batin yang radikal (Value of radical peace)
Ketika akar dari segala ketakutan (maut) sudah dipatahkan oleh Yesus, maka cabang-cabang ketakutan lainnya seharusnya kehilangan kekuatan atas hidup kita.
Hadapi krisis tanpa kepanikan yang merusak kesehatan mental kita.
-Nilai kebebasan dari kompromi dosa (value of uncompromised integrity)
Iblis sering mengunakan ketakutan akan “kehilangan mata pencaharian” atau “kehilangan nyawa” untuk memaksa manusia berbuat dosa (korupsi, berbohong, menyangkal iman). Orang yang merdeka dari takut mati tidak bisa diancam oleh dunia
Ketika kita ditekan di tempat kerja atau lingkungan untuk melakukan tindakan curang (seperti manipulasi laporan keuangan atau menyuap), beranilah berkata “Tidak”. Jangan takut dikucilkan atau kehilangan jabatan, karena kita tahu perlindungan dan masa depan kita dijamin oleh Tuhan bukan oleh manusia.
-Nilai kasih yang berkorban (value of sacrificial love)
Orang yang diperbudak oleh ketakutan akan selalu hidup egois (hanya memikirkan keselamatan dan kenyamanan diri sendiri). Sebaliknya orang yang sudah dibebaskan dari takut mati memiliki kapasitas untuk mengasihi orang lain secara radikal
Beranilah menolong sesama bahkan ketika ada risiko atau kerugian materi di dalamnya. Misalnya, menyisihkan uang tabungan untuk membantu teman yang sedang krisis medis, atau meluangkan waktu merawat anggota keluarga yang sakit menular dengan tetap menjaga protokol kesehatan, tanpa dikuasai ketakutan yang berlebihan.
-Nilai pengharapan di tengah kedukaan (Value of hope in Grief)
Kematian fisik bagi orang percaya bukan lagi akhir dari segalanya atau sebuah hukuman, melainkan sebuah “kepulangan” ke rumah Bapa.
Ketika berada di rumah duka atau kehilangan orang yang dikasihi di dalam Tuhan, kita boleh menangis karena sedih secara manusiawi, tetapi jangan meratap seperti orang yang tidak punya pengharapan. Hibur diri Saudara dan keluarga dengan keyakinan iman bahwa mereka sudah bersama Kristus dan suatu hari kelak akan ada reuni kudus di surga.
Yesus memerdekakan kita dari kuasa dosa (legal) sekaligus memerdekakan kita dari kuasa ketakutan (mental). #KS