1 Samuel 3:10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Ibu Teresa di Calcutta menjadi kesaksian indah tentang bagaimana kebiasaan mau mendengarkan suara Tuhan sanggup mengubah jalan hidup seseorang dan memberi dampak bagi dunia. Ketika masih menjadi seorang guru di sekolah elit, Ibu Teresa sering kali mengambil waktu di tengah kesibukannya untuk berdiam diri dan mendengarkan bisikan Roh Kudus. Suatu hari di atas kereta api menuju Darjeeling, ia mendengar “panggilan di dalam panggilan”—sebuah bisikan lembut namun jelas dari Tuhan yang memintanya untuk meninggalkan kenyamanan biara demi melayani orang-orang termiskin di tempat-tempat terkumuh.
Ibu Teresa tidak mengabaikan arahan tersebut atau sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dengan hati yang taat dan mau mendengarkan bimbingan para pembimbing rohaninya serta suara Tuhan, ia melangkah keluar. Kepekaannya untuk mendengarkan dan menaati petunjuk Tuhan menjadikan hidupnya sebuah sarana kasih Allah yang menyelamatkan, merawat, dan memulihkan ribuan jiwa yang terlupakan di berbagai belahan dunia.
Di tengah dunia yang sangat bising dan penuh dengan gangguan, keterampilan untuk mau mendengarkan menjadi hal yang kian langka. Dalam 1 Samuel bab 3, kita mendapati kisah Samuel muda yang tinggal di kemah suci di bawah bimbingan imam Eli. Pada waktu itu, firman Tuhan jarang terjadi dan penglihatan-penglihatan pun tidak sering. Ketika Tuhan memanggil nama Samuel sampai tiga kali, Samuel tidak menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan, sebab ia belum memiliki pengalaman pribadi mendengar-Nya. Ia mengira imam Eli yang memanggilnya.
Di sinilah letak keindahan karakter Samuel: ia memiliki hati yang sangat taat dan mau diajar. Ketika imam Eli menyadari bahwa Tuhan sedang memanggil anak itu, Eli menasihati Samuel untuk merespons dengan sikap seorang hamba yang siap mendengarkan. Samuel tidak bersikap sok tahu atau enggan menuruti arahan Eli. Saat Tuhan memanggil untuk yang keempat kalinya, Samuel langsung menjawab dengan penuh ketaatan: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Sikap hati yang mau mendengarkan petunjuk pembimbing rohani dan kepekaan merespons suara Tuhan menjadi titik balik penting dalam hidup Samuel. Sejak malam itu, Tuhan menyertai Samuel dan tidak membiarkan satu pun dari firman-Nya gugur. Kesediaan untuk mendengarkan sejak usia muda membentuk karakter, hikmat, dan ketajaman Rohani Samuel.
Sering kali kita sulit mendengar suara Tuhan bukan karena Tuhan berhenti berbicara, melainkan karena hati kita terlalu penuh dengan keinginan sendiri, gengsi, atau keengganan untuk diajar. Ketika kita belajar menundukkan diri, menghormati nasihat yang bernilai ilahi, dan menyediakan waktu tenang di hadapan-Nya, Tuhan akan membimbing setiap langkah hidup kita.
Samuel muda pada awalnya belum pernah mendengar suara Tuhan secara pribadi. Namun, ia memiliki sikap hati yang mau taat dan menurut pada apa yang dikatakan oleh imam Eli agar ia merespons saat Tuhan berbicara. Karena memiliki hati yang taat dan mau mendengarkan, Samuel bertumbuh menjadi seorang nabi besar yang dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memimpin dan menuntun bangsa Israel.
Hari ini, mari kita membuka hati untuk mau mendengarkan suara-Nya dan taat pada setiap petunjuk-Nya. #MST