Efesus 6:4 (TB) “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Di tengah zaman yang semakin keras, tugas mendidik menjadi tantangan yang tidak ringan. Banyak orang tua merasa lelah, pembimbing rohani merasa kecewa, bahkan tidak sedikit yang memilih jalan keras dengan harapan anak atau orang yang dibimbing segera berubah. Namun firman Tuhan justru menunjukkan jalan yang berbeda. Tuhan tidak hanya peduli pada hasil didikan, tetapi juga pada cara kita mendidik. Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada dalam penjara. Dalam pasal 5–6, Paulus berbicara tentang kehidupan orang percaya di dalam keluarga dan relasi sehari-hari. Setelah menasihati anak-anak untuk taat kepada orang tua, Paulus memberikan tanggung jawab yang tidak kalah besar kepada para bapa. Menarik bahwa ia tidak memulai dengan perintah mendidik, melainkan dengan larangan: “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.”

Pada masa itu, budaya Romawi memberi kuasa besar kepada seorang ayah. Seorang bapa bahkan dapat mengatur hampir seluruh hidup anaknya dengan otoritas yang keras. Namun Injil membawa nilai yang berbeda. Paulus mengingatkan bahwa otoritas bukan alasan untuk bertindak sewenang-wenang. Kuasa harus dijalankan dengan kasih dan tanggung jawab.
Sering kali tanpa sadar, seseorang dapat mendidik dengan cara yang salah. Ada anak yang terus dibandingkan dengan saudaranya. Ada yang hanya menerima kritik tanpa pernah mendapat apresiasi. Ada yang bertumbuh dalam ketakutan karena setiap kesalahan dibalas dengan kemarahan. Luka seperti ini tidak hanya meninggalkan trauma emosional, tetapi kadang juga membentuk gambaran yang salah tentang Tuhan. Itulah sebabnya Paulus melanjutkan, “didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Kata didiklah mengandung makna memelihara, melatih, dan membesarkan dengan penuh perhatian. Jadi mendidik menurut Tuhan bukan sekadar memberi aturan, melainkan membangun kehidupan.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita. Sudahkah kita menjadi saluran kasih dalam mendidik? Apakah kata-kata kita membangun atau justru melukai? Jangan sampai kita menuntut perubahan, tetapi lupa menghadirkan kasih yang menolong perubahan itu terjadi. #SOS