Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Horatio Spafford, seorang pengacara dan pengusaha sukses dari Chicago pada abad ke-19, menjadi gambaran nyata bagaimana iman yang teguh mendatangkan damai sejahtera yang melampaui akal. Dalam kurun waktu singkat, Horatio kehilangan harta bendanya akibat kebakaran besar Chicago pada tahun 1871. Tidak berhenti disitu, beberapa tahun kemudian, kapal yang ditumpangi istri dan keempat putrinya tenggelam di Samudra Atlantik. Keempat putrinya meninggal dunia, dan hanya istrinya yang selamat.

Saat Horatio berlayar menyusuri lokasi tempat keempat putrinya tenggelam, di tengah duka yang amat mendalam, ia tidak mengutuki Tuhan atau tenggelam dalam keputusasaan. Hatinya tetap teguh percaya kepada Allah. Di atas kapal itulah ia menulis bait lagu himne yang sangat terkenal hingga hari ini: “It Is Well with My Soul” (Nyamanlah Jiwaku). Kehidupan Horatio membuktikan bahwa tatkala iman seseorang tertanam teguh kepada Allah, badai terdahsyat pun tidak sanggup merenggut damai sejahtera dari dalam hatinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mencari rasa aman dan damai sejahtera dari hal-hal yang fana—seperti tabungan yang cukup, jabatan yang stabil, atau kondisi kesehatan yang prima. Namun, ketika guncangan hidup datang dan mengikis semua hal tersebut, di manakah kita meletakkan kepercayaan kita? Firman Tuhan dalam Yesaya 26:3 memberikan rahasia mendasar tentang ketenangan jiwa: damai sejahtera bukanlah hasil dari ketiadaan masalah, melainkan buah dari hati yang terikat teguh pada Allah.

Kata “tergantung” atau “teguh” dalam bahasa aslinya menggambarkan hati yang bersandar penuh dan berserah total. Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Allah yang Mahakuasa, fokus kita berubah dari besarnya ancaman menjadi besarnya kedaulatan Tuhan. Iman yang teguh bukanlah sikap nekad tanpa alasan, melainkan sebuah keputusan sadar untuk mempercayai karakter Allah yang setia, penuh kasih, dan tidak pernah gagal.

Orang yang hatinya teguh tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berita buruk atau situasi yang tidak pasti. Ia paham betul bahwa Allah yang memegang kendali atas hidupnya, Dia tidak pernah tertidur. Saat kita menyerahkan seluruh kekhawatiran kita kepadaNya, Allah secara aktif menjadi benteng pertahanan jiwa kita dengan damai sejahtera yang menenangkan pikiran dan perasaan kita.

Kepada siapa kita percaya—dan sejauh mana kita bersandar—menentukan tingkat damai sejahtera yang ada di dalam hati kita. Jika kita menaruh kepercayaan pada dunia yang terus berubah, hati kita akan selalu diliputi kecemasan. Namun, iman yang teguh dan tidak goyah kepada Allah akan menjaga hati dan pikiran kita tetap penuh dengan damai sejahtera, melampaui segala akal dan situasi yang sedang kita hadapi. #MST