Kolose 2:7 (TB) Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Eric Liddell adalah seorang atlet lari asal Skotlandia yang meraih medali emas pada Olimpiade Paris 1924. Namanya melambung tinggi dan ia menjadi pahlawan nasional. Namun, di puncak ketenarannya, Eric membuat keputusan yang mengejutkan dunia: ia meninggalkan segala popularitasnya dan memilih menjadi seorang misionaris di Tiongkok.
Saat Perang Dunia II berkecamuk, Eric ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Weihsien oleh tentara Jepang. Kondisi di dalam kamp sangat buruk—makanan sangat terbatas, fasilitas minim, dan ketakutan melingkupi para tawanan setiap hari. Banyak orang kehilangan harapan dan mengalami depresi berat.
Namun, Eric berbeda. Di tengah penderitaan dan himpitan hidup yang dahsyat, ia tetap memancarkan kedamaian, sukacita, dan kasih. Setiap pagi sebelum fajar terbit, ia bangun untuk membaca Alkitab dan berdoa di bawah temaram lampu minyak. Mengapa ia bisa bertahan bahkan menjadi sumber pengharapan bagi tawanan lain? Karena iman Eric tidak bersandar pada situasi di luarnya, melainkan berakar sangat dalam di dalam Kristus. Akar imannya itulah yang memberinya nutrisi rohani dan kekuatan untuk berdiri teguh di tengah badai kehidupan yang paling pekat.
Rasul Paulus menggunakan analogi tumbuhan ketika menasihati jemaat di Kolose: “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia.” Akar adalah bagian tumbuhan yang jarang terlihat oleh mata, tetapi perannya sangat vital bagi keberlangsungan hidup seluruh pohon.
Akar memiliki dua fungsi utama: menyerap nutrisi dan menopang batang. Pohon yang rindang dan berbuah lebat tidak akan pernah ada tanpa sistem perakaran yang sehat di bawah tanah. Begitu pula dalam kehidupan rohani kita.
Saat situasi hidup sedang baik-baik saja, sulit membedakan mana iman yang dangkal dan mana iman yang berakar kuat. Namun, ketika “angin keras” berupa ujian, kegagalan, penyakit, atau krisis finansial menerpa, di situlah kualitas akar kita teruji. Pohon yang akarnya dangkal akan mudah tumbang saat badai datang. Sebaliknya, orang percaya yang rajin membangun hubungan pribadi dengan Tuhan—melalui doa, perenungan firman, dan ucapan syukur—sedang menancapkan akarnya dalam-dalam ke dalam Kristus.
Ketika kita berakar di dalam Dia, kita tidak akan mudah goyah oleh ajaran menyesatkan atau keputusasaan. Iman kita makin bertambah teguh, dan sebagai dampaknya, hati kita akan selalu melimpah dengan ucapan syukur—bahkan di masa-masa tersulit sekalipun.
Akar adalah kekuatan pertumbuhan. Jika kita berakar kuat di dalam Kristus, maka pohon kita akan tahan goncangan.
Mari luangkan waktu setiap hari untuk memperdalam akar iman kita melalui firman-Nya, sebab hanya di dalam Dialah terdapat sumber kekuatan sejati kita. #MST