Hosea 14:8 (TB) (14-9) Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.

Hudson Taylor, seorang misionaris ternama di Tiongkok pada abad ke-19, sering kali menghadapi situasi yang sangat menekan. Dalam pelayanan yang begitu besar, ia harus bertanggung jawab atas kehidupan ratusan misionaris, pasokan finansial yang sangat terbatas, serta ancaman bahaya fisik di negeri asing. Ada kalanya rasa cemas dan kelelahan yang luar biasa mencoba menguasai pikirannya.
Suatu hari, ketika beban hidup rasanya terlalu berat untuk ditanggung, Hudson Taylor menemukan sebuah kebenaran rohani yang mengubah seluruh cara pandangnya. Ia menyadari bahwa kekuatannya tidak pernah berasal dari usahanya sendiri, melainkan dari sejauh mana ia melekat kepada Kristus. Ia menuliskan sebuah kalimat terkenal: “Bukan imanku yang besar yang menyelamatkanku, melainkan iman kepada Allah yang besar.”
Hudson Taylor belajar untuk tidak bersandar pada bantuan manusia, keuangan, atau kemampuan pribadinya. Ketika ia memilih untuk sepenuhnya melekat dan bergantung hanya kepada Allah, semua kebutuhan pelayanannya senantiasa dicukupi dengan cara-cara yang ajaib. Ia menemukan kedamaian sempurna karena ia melekat pada Sumber yang tidak pernah kering.

Dalam kitab Hosea 14:8, Tuhan memberikan teguran sekaligus pemulihan bagi bangsa Efraim (Suku Israel). Bangsa ini telah lama mencari pertolongan dan kebahagiaan dari berhala-berhala—sesuatu yang diciptakan oleh tangan manusia atau kekuatan duniawi yang fana. Melalui Nabi Hosea, Tuhan mengingatkan bahwa berhala tidak akan pernah bisa memberikan jawaban atau perhatian sejati.

Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai “pohon sanobar yang menghijau”. Di saat pohon-pohon lain meranggas dan mati ketika musim kering tiba, pohon sanobar tetap hijau, teduh, dan kuat. Artinya, Allah adalah satu-satunya sumber yang senantiasa hidup, tidak pernah berubah, dan selalu sanggup memberikan kesegaran serta “buah” keberkatan bagi hidup kita.

Di zaman modern ini, “berhala” mungkin tidak lagi berbentuk patung kayu atau batu, melainkan berupa uang, karir, status sosial, atau figur manusia yang kita jadikan sandaran utama. Kita sering kali tergoda untuk melekat pada hal-hal tersebut demi mendapatkan rasa aman. Namun, ketika badai hidup menghantam, kekayaan bisa lenyap, jabatan bisa hilang, dan manusia bisa mengecewakan.

Melekat pada Allah berarti melepaskan kebergantungan kita pada hal-hal fana dan mengarahkan seluruh pengharapan kita hanya kepada-Nya. Saat kita memilih untuk terus melekat pada-Nya melalui doa, firman, dan ketaatan, Dialah yang akan menjawab doa kita, memperhatikan setiap detail hidup kita, dan membuat hidup kita berbuah pada waktunya.

Hanya pada Allah sumber kehidupan yang tetap dan dapat diandalkan. Lepaskanlah sandaran-sandaran fana yang mengecewakan, dan lekatkanlah hati Saudara sepenuhnya kepada Tuhan Yesus yang tidak pernah gagal menjaga hidup Saudara. #MST