1 Korintus 6:19 (TB) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Korintus, sebuah kota pelabuhan yang sangat kaya, kosmopolitan, tetapi juga terkenal dengan moralitasnya yang sangat longgar. Di Korintus purba, pelacuran bakti (bagian dari ritual penyembahan berhala) adalah hal yang biasa.
Banyak orang Kristen di Korintus saat itu terpengaruh oleh filsafat Yunani kuno yang dualistik. Mereka berpikir:
Roh/jiwa itu suci dan milik Tuhan.
Tubuh fisik itu fana, tidak penting, dan akan hancur.
Karena pemikiran ini, mereka merasa bebas melakukan apa saja dengan tubuh mereka—termasuk percabulan (seks bebas)—karena menganggap hal itu tidak memengaruhi keselamatan roh mereka. Paulus dengan keras menentang pemikiran keliru ini.
Nats hari ini membongkar total cara pandang egois tentang tubuh lewat tiga kebenaran utama:
”Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus”
Bait Allah (Bait Suci) adalah tempat di mana kehadiran Allah yang kudus tinggal di bumi. Paulus membuat analogi yang radikal: Tuhan tidak lagi tinggal di dalam gedung batu, melainkan di dalam tubuh fisik orang percaya melalui Roh Kudus. Karena Roh Kudus itu kudus, maka tempat kediaman-Nya (tubuh kita) juga harus dijaga kekudusannya.
”Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah”
Kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita bukan karena hasil usaha atau kehebatan kita, melainkan anugerah dari Allah sejak seseorang percaya kepada Kristus.
”Kamu bukan milik kamu sendiri”
Ini adalah tamparan keras bagi ego manusia. Budaya dunia sering mendengungkan “Ini tubuhku, terserah aku mau pakai untuk apa.” Tetapi Paulus menegaskan bahwa bagi orang percaya, hak milik atas tubuh kita sudah berpindah tangan. Kita bukan lagi pemilik mutlak atas diri kita sendiri.
Makna ayat 19 tidak bisa dipisahkan dari ayat 20 yang berbunyi: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
Istilah “dibeli dan lunas dibayar” menggunakan bahasa pasar budak zaman Romawi. Yesus Kristus telah membayar harga yang sangat mahal—yaitu darah-Nya sendiri di kayu salib—untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Karena kita sudah “dibeli” oleh Kristus, maka tujuan hidup kita sekarang adalah menggunakan tubuh ini untuk memuliakan Pemiliknya yang baru, yaitu Allah.
Renungan hari ini mendefinisikan ulang bagaimana kita memperlakukan tubuh kita:
Menjaga Kekudusan Seksual: Dalam konteks aslinya, ayat ini adalah larangan keras terhadap percabulan, perzinaan, dan segala bentuk penyalahgunaan fungsi seksual di luar ikatan pernikahan yang kudus.
Gaya Hidup yang Menghormati Tuhan: Karena tubuh kita adalah bait-Nya, kita dipanggil untuk merawatnya dengan baik (menghindari kecanduan, zat merusak, atau gaya hidup yang merusak kesehatan fisik dan mental).
Hidup Kristen bukan lagi tentang “Apa yang membuatku merasa nyaman?” melainkan “Bagaimana tindakan, perkataan, dan pilihan hidupku mencerminkan kekudusan Tuhan yang tinggal di dalamku?”
Sebagai materai tanda kita milik-Nya Roh kudus tinggal di dalam kita. Jika Roh Allah ada di dalam kita maka Ia akan membersihkan, memulihkan dan memimpin hidup kita. #EL