1 Yohanes 2:28 (TB) Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.
Setiap orang tentu pernah merasakan malu karena melakukan kesalahan. Rasa malu muncul ketika kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan harapan atau standar yang benar. Dalam kehidupan rohani, Rasul Yohanes mengingatkan orang percaya untuk hidup sedemikian rupa sehingga tidak perlu merasa malu saat berhadapan dengan Tuhan Yesus ketika Ia datang kembali.
Kunci yang diberikan Yohanes sangat sederhana namun mendalam: “tinggallah di dalam Dia.” Tinggal di dalam Kristus berarti memiliki hubungan yang dekat dan terus-menerus dengan-Nya. Kita hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya, menjaga persekutuan melalui doa, serta membiarkan Roh Kudus membentuk karakter kita setiap hari. Ketika seseorang hidup dekat dengan Tuhan, ia akan semakin peka terhadap dosa dan semakin rindu melakukan kehendak-Nya. Sebaliknya, jika seorang percaya menjauh dari Tuhan dan hidup menurut keinginannya sendiri, ia akan kehilangan sukacita dan keyakinan rohani. Saat memikirkan kedatangan Kristus, yang muncul bukanlah pengharapan, melainkan rasa takut dan malu. Namun Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya hidup dalam ketakutan. Ia menginginkan kita memiliki keberanian dan sukacita saat menyambut kedatangan-Nya.
Hari ini, marilah kita memeriksa hati dan kehidupan kita. Apakah ada dosa yang belum dibereskan? Apakah hubungan kita dengan Tuhan masih terpelihara dengan baik? Kasih karunia Kristus selalu tersedia bagi mereka yang mau datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Ketika kita hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya, kita dapat menantikan hari kedatangan-Nya dengan penuh pengharapan. Kiranya setiap langkah hidup kita mencerminkan kasih dan ketaatan kepada Kristus, sehingga pada saat Ia datang kembali, kita dapat berdiri dihadapan-Nya dengan penuh sukacita, keyakinan, dan tanpa rasa malu. #RD