“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” 2 Korintus 7: 1
Secara medis, sebuah luka fisik tidak akan bisa sembuh dan pulih dengan baik jika di dalamnya masih terdapat kotoran atau infeksi. Dokter harus terlebih dahulu membersihkan area yang terluka, proses yang mungkin perih dan tidak nyaman agar obat bisa bekerja dan jaringan baru bisa tumbuh.
Prinsip yang sama berlaku untuk kehidupan rohani dan emosional kita. Sering kali kita berdoa meminta pemulihan kepada Tuhan atas hati yang hancur, kekecewaan, trauma, atau hubungan yang rusak. Namun, dalam 2 Korintus 7:1, Rasul Paulus mengingatkan bahwa ada bagian yang harus kita lakukan yaitu membersihkan diri dari pencemaran.
Tuhan sudah memberikan janji-janji-Nya yang luar biasa (penyertaan, pengampunan, dan kehidupan kekal), tetapi untuk mengalami pemulihan yang utuh, kita harus membuka diri. Membuka diri berarti kita rela melepaskan hal-hal yang selama ini meracuni tubuh dan jiwa kita, seperti akar pahit, dosa tersembunyi, kebiasaan buruk, atau kebanggaan diri agar anugerah pemulihan Tuhan bisa masuk dan bekerja secara maksimal.
Proses pemulihan sering kali membutuhkan keberanian untuk jujur di hadapan Tuhan. Berikut adalah cara kita merespons firman Tuhan hari ini:
Pegang Janji Tuhan sebagai Fondasi Pemulihan dimulai dengan keyakinan bahwa Tuhan memiliki janji yang indah bagi kita. Ketahuilah bahwa masa depan dan pemulihan Saudara aman di dalam tangan-Nya, bukan ditentukan oleh kegagalan di masa lalu.
Izinkan Tuhan Membersihkan “Luka”, Coba periksa hati Saudara. Adakah kebencian, iri hati, atau kebiasaan dosa yang masih Saudara simpan? Membuka diri berarti rela melepaskan kotoran-kotoran rohani tersebut. Berdamailah dengan masa lalu dan berikan pengampunan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.
Rawat Tubuh dan Jiwa Paulus secara spesifik menyebutkan “pencemaran jasmani dan rohani”. Tubuh dan jiwa kita saling terhubung. Menjaga kekudusan berarti kita juga merawat tubuh fisik kita (menjauhi kebiasaan yang merusak kesehatan) sekaligus menjaga asupan jiwa kita (menjauhi tontonan, pergaulan, atau informasi yang merusak iman).
Mari kita renungkan bersama bahwa pemulihan bukanlah proses instan, melainkan perjalanan yang terus-menerus. Rasa takut akan Allah yakni rasa hormat dan kekaguman yang dalam kepada-Nya adalah motivasi terbaik kita untuk mau terus dibersihkan dan dipulihkan setiap hari. #NS