Mazmur 33:15 (TB) Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.
Kisah nyata ini datang dari Kim Phuc, yang dikenal dunia sebagai “Gadis Foto Epik” dari Perang Vietnam. Saat berusia 9 tahun, tubuhnya terbakar hebat akibat bom napalm. Ia selamat secara fisik, namun hatinya dipenuhi oleh rasa benci, dendam yang mendalam, dan kepahitan yang menghancurkan jiwanya selama bertahun-tahun kepada mereka yang menyebabkan penderitaannya.
Kim merasa tidak ada yang tahu betapa hancur dan sakit hatinya. Namun, Tuhan mengenal kedalaman hatinya. Di tengah keputusasaan, Kim menemukan Kristus. Melalui firman-Nya, Tuhan mulai menjamah dan membentuk ulang hatinya yang keras karena dendam. Tuhan melunakkan hatinya dan memberikannya kekuatan adikodrati untuk mengampuni para pilot yang menjatuhkan bom tersebut. Kim bersaksi bahwa mukjizat terbesar dalam hidupnya bukanlah kesembuhan kulitnya yang terbakar, melainkan bagaimana Tuhan membentuk ulang hatinya dari penuh kebencian menjadi penuh dengan kasih dan damai sejahtera.
Seringkali kita merasa bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang benar-benar memahami kita. Bahkan, terkadang kita sendiri bingung dengan isi hati, emosi, dan motivasi kita sendiri. Namun, firman Tuhan hari ini memberikan sebuah penghiburan sekaligus teguran yang kuat: ada Satu Pribadi yang mengenal kita jauh sebelum kita mengenal diri kita sendiri. Dia adalah Allah, Sang Pencipta, yang tidak hanya merajut tubuh awam kita, tetapi juga membentuk hati kita sekalian.
Kata “membentuk” dalam bahasa aslinya merujuk pada tindakan seorang penjunan yang dengan sabar dan detail membentuk tanah liat. Allah bukanlah pencipta yang pasif. Dia menciptakan hati kita dengan tujuan khusus, dan Dia terus memperhatikan setiap detail hidup kita—termasuk segala pekerjaan, motivasi tersembunyi, serta pergumulan yang tidak pernah kita ucapkan kepada orang lain.
Masalahnya, dunia ini sering kali menggores, mengeraskan, dan merusak “tanah liat” hati kita. Kekecewaan, kegagalan, dan dosa membuat hati kita menjadi retak atau kaku. Ketika hati kita mulai menjauh dari rancangan semula-Nya, Allah tidak tinggal diam. Sebagai Penjunan yang Agung, Dia rindu untuk membentuk ulang hati kita. Proses pembentukan ini sering kali tidak nyaman. Tuhan mengizinkan ujian, teguran, bahkan padang gurun kehidupan untuk mengikis kesombongan, keegoisan, dan kepahitan dalam diri kita.
Namun, pembentukan Tuhan selalu didasari oleh kasih. Dia tidak menghancurkan untuk membuang, melainkan menghancurkan apa yang rusak untuk menjadikannya sebuah mahakarya yang baru dan lebih indah. Agar proses ini berhasil, dibutuhkan satu hal dari sisi kita: penyerahan diri. Kita harus belajar melepaskan kendali dan membiarkan tangan-Mu yang penuh kasih bekerja atas hidup kita, percaya bahwa apa yang sedang Dia kerjakan adalah yang terbaik bagi masa depan kita.
Allah mengenal hati kita yang terdalam lebih dari siapapun, bahkan lebih dari diri kita sendiri. Dan Dia mau membentuk hati kita asal kita percaya dan membiarkan kuasa-Nya bekerja. Mari datang kepada-Nya hari ini, serahkan setiap kepingan hati yang terluka atau keras, dan katakan, “Bentuklah aku sesuai kehendak-Mu, ya Tuhan.” Amin. #MST