Titus 2:3-4 (TB) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,
Di zaman sekarang, banyak orang ingin menjadi sukses, terkenal, atau berpengaruh. Namun Tuhan tidak hanya memanggil kita menjadi orang berhasil, melainkan menjadi pribadi yang mampu melahirkan generasi yang takut akan Tuhan.
Menjadi “bapa” bukan hanya soal usia atau status memiliki anak. Dalam Tuhan, menjadi bapa berarti menjadi pribadi yang membimbing, mengajar, mendukung, dan membawa generasi berikutnya semakin dekat kepada Kristus.
Melalui surat Paulus kepada Titus, kita belajar bahwa generasi yang lebih dewasa memiliki kewajiban untuk mendidik generasi muda. Menariknya, firman ini tidak hanya ditujukan kepada laki-laki, tetapi juga perempuan. Artinya, setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk menjadi mentor rohani bagi generasi selanjutnya.
1. Generasi Tidak Akan Bertumbuh Tanpa Didikan. Tuhan ingin setiap generasi dibentuk dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Anak-anak muda hari ini menghadapi tantangan besar:
pergaulan bebas, media sosial, kehilangan arah hidup,krisis identitas, dan jauhnya hubungan dengan Tuhan. Karena itu mereka membutuhkan figur yang membimbing dengan kasih dan keteladanan. Banyak generasi muda jatuh bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak ada yang membimbing mereka. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk: mengajar, mendukung, mendoakan, dan menjadi teladan hidup.
2. Pendidikan Terbaik Dimulai dari Keteladanan. Paulus berkata bahwa perempuan-perempuan tua harus hidup sebagai orang beribadah dan cakap mengajarkan hal-hal baik. Artinya sebelum mengajar, hidup kita terlebih dahulu harus menjadi contoh. Generasi muda lebih mudah meniru kehidupan daripada mendengar teori. Mereka melihat: bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menghadapi masalah, bagaimana kita melayani, bagaimana kita mengasihi keluarga, dan bagaimana kita tetap setia kepada Tuhan. Keteladanan adalah bahasa yang paling kuat. Jika kita ingin melahirkan generasi penyembah, maka kita harus menjadi penyembah terlebih dahulu. Jika kita ingin melahirkan generasi yang setia, maka kita harus hidup setia kepada Tuhan.
3. Setiap Orang Bisa Menjadi Mentor Generasi. Banyak orang berkata: “Aku bukan pendeta.” “Aku bukan pemimpin.” “Aku belum sempurna.” Tetapi Tuhan tidak mencari orang sempurna. Tuhan mencari orang yang mau dipakai. Kita bisa mulai dari hal sederhana: mengajak anak muda berdoa, mendengarkan pergumulan mereka, memberi semangat, mengajar firman Tuhan, atau sekadar hadir menjadi sahabat rohani. Satu perhatian kecil bisa menjadi jawaban doa bagi seseorang. Generasi hari ini membutuhkan lebih banyak “bapa” dan “ibu” rohani yang mau berjalan bersama mereka.
4. Warisan Terbesar Adalah Iman. Harta, jabatan, dan kesuksesan bisa hilang. Tetapi iman kepada Tuhan adalah warisan yang kekal. Ini menunjukkan bahwa generasi yang takut Tuhan lahir dari proses pendidikan rohani yang konsisten. Apa yang kita tanam hari ini akan dituai oleh generasi berikutnya. Karena itu jangan lelah: mendoakan anak-anak, membina youth, melayani di komsel, mengajar dengan kasih, dan menjadi teladan. Tuhan melihat setiap benih yang ditabur.
Menjadi bapa yang melahirkan generasi bukan tugas sebagian orang saja, melainkan panggilan semua orang percaya. #VM