Filemon 1:10 (TB) mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus
Ayat ini adalah momen krusial dalam surat ini. Paulus sedang melakukan sebuah diplomasi spiritual yang sangat berani untuk mengubah status seorang budak pelarian menjadi seorang saudara seiman.
1. Latar Belakang Onesimus yang adalah seorang Budak Pelarian.
Dalam hukum Kekaisaran Romawi kuno, Onesimus adalah seorang budak milik Filemon (seorang Kristen kaya di Kolose) yang melarikan diri.
Melarikan diri adalah kejahatan serius bagi seorang budak. Hukum Romawi mengizinkan pemilik budak untuk menghukum budak pelarian dengan sangat kejam—mulai dari dicap besi panas di dahinya dengan huruf “F” (Fugitivus / Pelarian), dipukuli, hingga dihukum mati di kayu salib. Onesimus kemungkinan juga mencuri sesuatu dari Filemon sebelum kabur.
Namun pelariannya justru mempertemukannya dengan Paulus di dalam penjara. Di sanalah hidup Onesimus berubah total.
2. Arti Ungkapan “Anakku yang Kudapat Selagi Aku dalam Penjara”
Ketika Paulus menyebut Onesimus sebagai “anakku yang kudapat”, ia tidak sedang berbicara tentang hubungan darah, melainkan hubungan spiritual.
Lahir Baru di Penjara:
Paulus memenangkan jiwa Onesimus bagi Kristus. Melalui pemberitaan Injil oleh Paulus, budak pelarian ini bertobat dan menerima Yesus.
Kasih Seorang Bapa:
Dengan menyebutnya “anakku”, Paulus memberikan status dan martabat baru kepada Onesimus. Di mata hukum Romawi, budak adalah barang properti, bukan manusia. Tetapi di mata Paulus, Onesimus adalah anak rohani yang sangat ia kasihi.
Ada kontras yang luar biasa di sini: Paulus sendiri sedang dirantai dan kehilangan kebebasan fisiknya, namun di dalam penjara yang gelap itu, ia justru melahirkan seorang “anak” yang merdeka secara rohani.
Onesimus dalam bahasa Yunani memiliki arti “berguna” atau “menguntungkan.”
Di ayat-ayat berikutnya (ayat 11), Paulus menggunakan metafora dari arti nama ini. Sebelum bertobat, Onesimus adalah budak yang “tidak berguna” bagi Filemon karena ia melarikan diri dan merugikan majikannya. Tetapi sekarang, setelah menjadi Kristen, Onesimus benar-benar menjadi “onesimus” (berguna)—baik bagi Paulus di penjara maupun bagi Filemon nantinya.
Melalui renungan hari ini, kita diingatkan bahwa tidak ada orang yang terlalu seburuk atau se-terpuruk hingga tidak bisa dijangkau oleh kasih karunia Tuhan. Seperti Onesimus, kita semua dulunya adalah “pelarian” dari Tuhan karena dosa kita, namun melalui Kristus, kita diadopsi menjadi anak-anak Allah.
Di sisi lain, saat di dalam penjarapun, Rasul Paulus tetap menghasilkan anak Rohani yaitu Onesimus. Kesulitan tidak menghalangi Paulus untuk menghasilkan generasi. Tidak ada kondisi, bahkan yang paling buruk sekalipun yang dapat menjauhkan kita dari kasih Allah dan pemakaian Allah atas hidup kita. #EL