Yosua 22:5 (TB) Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”
Ayat ini adalah nasihat penting dari Yosua di momen yang sangat menentukan. Bangsa Israel sedang memasuki fase baru tidak lagi berperang bersama, melainkan kembali ke wilayah masing-masing. Dalam situasi seperti ini, ada risiko besar: ketika tekanan berkurang, kesetiaan pun bisa ikut melemah. Karena itu, Yosua menekankan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kemenangan yaitu ketekunan dalam ketaatan.
Sering kali kita berpikir bahwa ujian terbesar adalah saat kesulitan. Namun Alkitab menunjukkan bahwa setelah keberhasilan pun ada ujian: apakah kita tetap bergantung kepada Tuhan atau mulai mengandalkan diri sendiri?
Bangsa Israel sudah melihat mukjizat dan kemenangan. Tetapi Yosua tahu, jika mereka lengah, mereka bisa dengan mudah melupakan Tuhan. Kesetiaan sejati terlihat bukan hanya saat kita membutuhkan Tuhan, tetapi juga saat kita merasa “baik-baik saja”.
Sering kali kita berpikir bahwa kesetiaan hanya diperlukan dalam hal-hal besar. Padahal, kesetiaan justru dibangun dari hal-hal kecil:
– Tetap berdoa walau sibuk
– Tetap jujur walau ada kesempatan untuk curang
– Tetap melakukan yang benar walau tidak dilihat orang
– Tetap percaya kepada Tuhan walau keadaan tidak mudah
Kesetiaan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang ketekunan untuk terus berjalan bersama Tuhan.
Melakukan dengan setia berarti memilih Tuhan setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Dunia mungkin tidak selalu menghargai kesetiaan, tetapi Tuhan melihat dan menghargainya. Dan pada waktunya, kesetiaan itu akan menghasilkan buah yang indah dalam hidup kita. #NS