2 Timotius 2:13 (TB) Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Seorang karyawan bernama Budi bekerja di bawah seorang mentor/direktur yang sangat hebat. Di awal karier, Budi sangat bersemangat. Namun, karena masalah pribadi dan kelelahan (burnout), performa Budi hancur. Ia mulai sering terlambat, membuat kesalahan di laporan dan bahkan sempat berfikir untuk menghilang begitu saja dari tanggung jawabnya (tidak setia). Budi merasa malu dan yakin bahwa sang Direktur pasti akan membencinya atau menganggapnya sebagai kegagalan.

Suatu hari sang Direktur memanggil Budi. Bukannya memberikan surat peringatan (SP) justru sang Direktur berkata : “Budi, saya tahu kamu sedang tidak konsisten akhir-akhir ini. Tapi waktu saya mengangkatmu dulu, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk melatihmu sampai berhasil. Janji itu saya buat bukan karena kamu hebat, tapi karena saya adalah pemimpin yang memegang kata-kata saya sendiri.” Sang Direktur tetap setia pada janji dukungannya, bukan karena Budi layak, tetapi karena sang Direktur tidak mau melanggar integritas pribadinya.

Tuhan memberi “ruang salah” adalah kabar paling melegakan bagi siapa pun yang bekerja di bawah tekanan target dan kesempurnaan. Ruang salah bukan berarti kita dibiarkan bekerja sembarangan dan bukan juga “kartu bebas untuk berbuat dosa dan malas,“ melainkan sebuah hak istimewa bagi mereka yang diterima oleh Tuhan. Alasan kita punya ruang untuk bersalah, karena Kesetiaan Tuhan tidak tergantung pada kesempurnaan kita.

Jika Tuhan hanya setia saat kita benar, maka itu bukan kasih karunia tapi upah. Karena Ia “tidak dapat menyangkal diriNya” maka saat kita mengacaukan pekerjaan kita, Ia tetap hadir sebagai Mentor yang membimbing kita untuk bangkit, bukan Hakim yang mengusir kita. Ruang ini diberikan agar kita bisa bekerja dengan berani, berinovasi tanpa takut dan bertumbuh menjadi lebih baik setiap hari. #KS