Roma 12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik

Di zaman sekarang, sangat mudah untuk mengucapkan kata “kasih”. Kita bisa mengirim pesan penuh pujian, memberikan senyuman ramah di gereja, atau membagikan kutipan-kutipan indah tentang cinta di media sosial. Namun, Firman Tuhan dalam Roma 12:9 mengingatkan kita akan satu hal krusial: kasih tidak boleh sekadar pura-pura.

Secara etimologi, kata “jangan pura-pura” dalam bahasa Yunani menggunakan kata anupokritos, yang berarti tanpa topeng atau tulus. Cinta yang sejati bukan sekadar hiasan bibir atau keramahan lahiriah, melainkan sesuatu yang lahir dari kedalaman hati yang bersih. Sangat mungkin seseorang bersikap amat manis di luar, namun di dalam batunya masih tersimpan kepahitan, rasa dendam, kebencian, atau kejahatan yang tersembunyi. Tuhan tidak melihat seberapa manis kata-kata kita, tetapi Ia melihat kedalaman motivasi hati kita.

Kisah nyata dari Nicholas Winton, seorang pialang saham asal Inggris, menggambarkan dengan sangat jelas apa arti kasih yang sebenarnya. Sebelum Perang Dunia II pecah pada tahun 1938, Nicholas melihat ancaman bahaya yang mengintai anak-anak Yahudi di Cekoslowakia. Ia tidak hanya merasa kasihan atau mendoakan mereka dari jauh; ia mengambil real action.

Nicholas mengorganisir operasi penyelamatan rahasia, mengurus dokumen perjalanan, dan mencari keluarga orang tua angkat di Inggris. Kerja kerasnya berhasil menyelamatkan 669 anak Yahudi dari ancaman kamp konsentrasi. Selama puluhan tahun, ia menyimpan cerita ini rapat-rapat tanpa pernah menyombongkan diri atau meminta pujian. Hatinya murni ingin melakukan yang baik dan menjauhi kejahatan. Bagi Nicholas, kasih bukanlah panggung untuk dipuji, melainkan tindakan nyata untuk menyelamatkan sesama tanpa menyimpan kepahitan atau motif terselubung.

Langkah pertama untuk menghidupi kasih yang nyata adalah membersihkan hati kita dari kejahatan. Mengaku mengasihi sesama sementara hati kita masih menyimpan kepahitan adalah sebuah kontradiksi. Kebencian, dendam, dan iri hati yang disimpan di dalam hati pada akhirnya akan merusak kasih itu sendiri. Itulah sebabnya Rasul Paulus menegaskan dua hal yang tidak boleh dipisahkan: jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kita tidak bisa melakukan yang baik secara murni jika kita belum benar-benar membuang apa yang jahat dari batin kita.

Mari kita mengevaluasi diri hari ini. Apakah kasih yang kita tunjukkan kepada keluarga, teman, atau rekan kerja sudah menjadi sebuah real action yang bersumber dari hati yang murni? Ataukah kita masih memakai “topeng” ramah padahal hati kita masih terluka dan mendendam? Tuhan merindukan kasih yang berdampak, kasih yang rela berkorban, dan kasih yang berani mengampuni.

Bersungguh-sungguh dalam kasih artinya mempraktikkan kasih dalam tataran yang nyata—bukan sekadar kata-kata manis di bibir sementara hati masih menyimpan banyak kepahitan dan kejahatan. Hari ini, mari kita mengambil keputusan untuk menjauhkan semua yang jahat dari hati kita, mengampuni mereka yang melukai kita, dan melangkah melakukan kebaikan yang berdampak nyata bagi sesama. #MST