1 Tesalonika 5:15 (TB)
Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakan lah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang._
Riko baru saja menyelesaikan syuting larut malam dan terjebak kemacetan parah dalam perjalanan pulang. Pikirannya penat dan tubuhnya sangat lelah.
Tiba-tiba, sebuah mobil dari jalur sebelah memotong jalurnya secara agresif tanpa lampu sein, hampir membuat mobil Riko lecet. Tidak hanya itu, sang pengemudi mobil tersebut malah membuka kaca dan memaki Riko seolah-olah Riko yang bersalah. Seketika, darah Riko mendidih. Ego dan amarahnya mendesak Riko untuk mengejar mobil itu, membalas memotong jalan, atau minimal membalas makiannya.
Namun, kalimat dari khotbah hari Minggu terlintas di benaknya: “Jangan membalas jahat dengan jahat.” Riko menarik napas dalam-dalam, menggenggam setir dengan kuat, lalu memilih untuk melambat dan memberikan jalan.
Beberapa kilometer kemudian, mereka tanpa sengaja berhenti di gerbang tol yang sama karena kartu pengemudi agresif tersebut kehabisan saldo dan menyebabkan antrean. Alih-alih membunyikan klakson panjang untuk meluapkan kekesalan, Riko justru turun dari mobilnya, berjalan ke depan, dan menempelkan kartu tolnya untuk membayar tarif tol mobil orang tersebut.
Pengemudi yang tadinya marah itu tertegun, wajahnya memerah karena malu, dan ia hanya bisa menganggukkan kepala meminta maaf dari dalam mobil. Malam itu, Riko tidak hanya menyelamatkan mobilnya dari benturan, tetapi ia berhasil memutus rantai kemarahan yang bisa saja berakhir dengan keributan di jalanan.
Membalas kebaikan dengan kebaikan itu biasa. Membalas kejahatan dengan kejahatan itu merusak. Namun, membalas kejahatan dengan kebaikan adalah karakter kristiani yang sejati.
“Jangan jadi cermin yang memantulkan kejahatan orang lain. Jadilah dinding yang menghentikan kejahatan dengan kebaikan.” #KS