2 Raja-raja 5:15 (TB) Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Corrie ten Boom, seorang wanita Kristen asal Belanda yang ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi Nazi pada Perang Dunia II, menjadi kesaksian nyata bagaimana kasih yang tulus sanggup menembus kerasnya hati manusia. Di dalam tempat penderitaan yang sangat kejam itu, Corrie dan saudarinya, Betsie, tidak memilih untuk memelihara kebencian atau rasa dendam terhadap para prajurit penjaga. Sebaliknya, mereka secara konsisten menunjukkan kasih, kesantunan, dan membagikan terang Kristus kepada sesama tahanan bahkan kepada para penjaga kamp.

Bertahun-tahun setelah perang usai, seorang mantan penjaga kamp yang sangat kejam mendatangi Corrie setelah suatu kebaktian. Orang tersebut mengalami jamahan Tuhan dan bertobat karena mengingat kesaksian hidup dan kasih yang tidak pernah padam dari para tawanan Kristen di tengah situasi paling kelam. Kehidupan Corrie membuktikan bahwa ketulusan hati dan tindakan kasih dari seseorang yang tertindas memiliki kuasa luar biasa untuk membimbing jiwa yang keras menuju pertobatan di dalam Tuhan.

Dalam 2 Raja-raja bab 5, kita membaca kisah Naaman, seorang panglima besar tentara Aram yang sangat dihormati namun menderita penyakit kusta. Menariknya, pintu masuk bagi pertobatan dan kesembuhan Naaman tidak dimulai dari seorang raja atau bangsawan, melainkan dari seorang gadis kecil bangsa Israel yang ditawan dan dijadikan budak pelayan istri Naaman.

Gadis kecil ini mengalami ketidakadilan yang sangat besar: ia dipisahkan dari keluarga, kehilangan kemerdekaan, dan harus hidup di negeri asing sebagai pelayan. Namun, penderitaan tidak membuat hatinya menjadi pahit atau penuh dendam kepada majikannya. Ketika ia melihat penderitaan Naaman, kasih dan kesantunannya tergerak. Dengan penuh kepedulian, ia memberi tahu majikannya tentang nabi Elisa di Samaria yang sanggup menyembuhkan Naaman.

Tindakan kasih dan perkataan jujur gadis kecil ini menggerakkan langkah Naaman hingga akhirnya sang panglima mengalami kesembuhan ajaib setelah membenamkan diri tujuh kali di Sungai Yordan. Pengalaman itu membawa Naaman pada titik balik spiritual: ia bertobat dari penyembahan berhala dan mengakui dengan tegas bahwa tidak ada Allah di seluruh bumi kecuali Allah Israel. Sifat santun, empati, dan iman yang teguh dari seorang budak cilik berhasil meruntuhkan keangkuhan seorang panglima besar.

Situasi hidup kita mungkin tidak selalu ideal atau bebas dari tekanan. Namun, posisi, keterbatasan, maupun kesulitan yang sedang kita alami tidak pernah bisa memadamkan panggilan kita untuk menjadi terang. Saat kita memilih untuk tetap menunjukkan kasih dan kesantunan daripada kepahitan, kehidupan kita menjadi alat yang sangat kuat untuk menyatakan kemuliaan Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.

Naaman, seorang panglima besar Raja Aram, dapat mengenal dan mengakui keagungan Tuhan karena kasih dan kesantunan seorang gadis kecil yang hidupnya tidak mudah—dipisahkan dari keluarganya, ditawan ke negeri asing, dan dijadikan budak. Di tengah kesulitan hidup yang begitu menekan, gadis kecil yang tidak bahkan tidak disebutkan namanya ini memilih untuk tidak mendendam, melainkan menjadi terang kemuliaan Tuhan yang membawa dampak pertobatan besar. Biarlah di mana pun Tuhan menempatkan kita hari ini, kita terus memancarkan kasih-Nya bagi sesama. #MST