1 Yohanes 4:20 (TB) Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai klaim tanpa bukti. Di media sosial, siapa pun bisa membangun citra sebagai pribadi yang saleh dan penuh kasih. Namun, dalam kerajaan Allah, pergaulan verbal tidak pernah cukup tanpa adanya bukti otentik.
Rasul Yohanes memberikan standard yang sangat tajam dalam 1 Yohanes 4:20. Ia menegaskan bahwa mengasihi Allah yang tidak kelihatan adalah kemustahilan jika kita gagal mengasihi sesama yang ada di depan mata.
Mengapa “sesama” menjadi tolak ukur?
Seringkali lebih mudah “mengasihi” Tuhan karena Dia sempurna dan tidak pernah mengecewakan kita. Namun, mengasihi manusia membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan pengampunan karena manusia penuh dengan kekurangan. Justru di situlah letak ujiannya:
• Kasih bukan perasaan, tetapi keputusan.
• Kasih adalah tindakan nyata, bukan sekadar seni berbicara di mimbar atau status media sosial.
Menjadi saksi yang valid
Jika kita mengaku telah ditebus oleh kasih karunia Kristus, maka buah dari penebusan itu harus terpancar dalam cara kita memperlakukan orang lain-bahkan mereka yang sulit untuk dikasihi.
Kebencian, dendam, dan sikap tidak peduli adalah “cacat” yang membatalkan klaim iman kita.
Hari ini, mari kita evaluasi diri. Apakah hidup kita memiliki bukti otentik sebagai pengikut Kristus? Jangan biarkan pengakuan iman kita menjadi sia-sia karena hati yang tertutup bagi sesama. Ingatlah, dunia tidak bisa melihat Allah secara langsung, tetapi mereka bisa melihat pantulan kasih-Nya melalui tindakan kita.
“Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan bagi ku, mampukan ku untuk mengasihi sesama dengan tulus. Biarlah hidupku menjadi bukti otentik bahwa kasih-Mu benar-benar nyata dan berkuasa di dalamku. Amin” #A