1 Tesalonika 2:9 (TB) Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.
Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk melayani bangsa-bangsa non Yahudi. Ia memberitakan Injil, mengajar dan mendirikan jemaat di berbagai wilayah. Paulus tidak hanya melakukan pekerjaan rohani, tetapi ia juga melakukan pekerjaan sekuler sebagai pembuat tenda/kemah (wiraswasta). Ia mencari nafkah dengan keahliannya membuat tenda agar tidak menjadi beban bagi jemaat yang dilayaninya seperti yang tertulis dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika.
Kota Tesalonika adalah pusat perdagangan yang sibuk, namun terdapat ketimpangan yang tajam antara kelas elit pedagang dan rakyat jelata. Jemaat di Tesalonika sebagian besar berasal dari strata sosial ekonomi menengah ke bawah yang terdiri dari kaum pekerja kasar, pedagang kecil hingga budak. Selain itu jemaat mengalami pemiskinan karena penganiayaan sebagai orang Kristen baru. Mereka dikucilkan dari serikat pekerja atau kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian akibat penolakan terhadap budaya penyembahan berhala setempat. Karena kondisi ekonomi jemaat Tesalonika yang minim, Paulus tidak ingin menambah beban finansial kepada mereka sehingga dia tidak menerima upahnya sebagai seorang pemberita Injil yang melayani di tengah-tengah jemaat Tesalonika. Dia bekerja sebagai tukang tenda untuk membiayai kebutuhan hidup dan pelayanannya sendiri. Sehingga dengan demikian Paulus dapat melayani dengan bebas tanpa menjadi beban bagi jemaat.
Mengikuti teladan Paulus, saat kita menjadi bapak rohani bagi orang lain jangan sampai kita menjadi beban yang memberatkan anak-anak rohani kita agar mereka tidak terhalang untuk terus belajar firman Tuhan dan bertumbuh dalam iman. #HH