Visi dan misi sebuah gereja bukan kalimat yang dipajang di dinding untuk terlihat profesional — ia adalah kompas yang menentukan ke mana setiap keputusan, setiap program, dan setiap pelayanan diarahkan. Bagi GBIS Sangkakala Balikpapan, visi “Mempersiapkan dan Melengkapi Umat Tuhan untuk Menjadi Berkat Dimanapun Ia Berada” dan misi “Dipulihkan untuk Memulihkan” bukan slogan baru — keduanya adalah ringkasan dari 73 tahun perjalanan gereja ini, dirumuskan menjadi kalimat yang terus menjadi arah hingga hari ini.
Setiap organisasi punya visi dan misi. Sebagian besar dilupakan tepat setelah dibuat — disimpan dalam dokumen yang tidak pernah dibaca ulang, atau dipajang di dinding lobi tanpa pernah benar-benar membentuk keputusan sehari-hari.
Tapi ada cara untuk membedakan visi yang hanya berupa kata-kata dari visi yang benar-benar hidup: lihat apakah ia menjelaskan mengapa sesuatu terjadi seperti yang terjadi.
Mengapa GBIS Sangkakala memiliki komsel yang tersebar di seluruh wilayah Balikpapan, bukan hanya terpusat di gedung gereja? Mengapa ada Arrow Kids, Pondok Bina Kasih, dan Sekolah Bethel — program yang melampaui ibadah Minggu semata? Mengapa gembala sidangnya adalah orang yang lahir dan tumbuh di gereja yang sama, bukan direkrut dari luar?
Jawabannya semua kembali ke dua kalimat yang sama.
Visi: Mempersiapkan dan Melengkapi Umat Tuhan untuk Menjadi Berkat Dimanapun Ia Berada
Visi GBIS Sangkakala Balikpapan dirumuskan secara lengkap sebagai:
“Sebagai Gereja yang Mempersiapkan dan Melengkapi Umat Tuhan untuk Menjadi Berkat Dimanapun Ia Berada.”
Mari pisahkan kalimat ini menjadi tiga bagian untuk memahami kedalamannya.
“Mempersiapkan dan Melengkapi”
Dua kata kerja ini bukan sinonim yang diulang untuk penekanan. Mempersiapkan mengandung makna proses — sesuatu yang membutuhkan waktu, bertahap, dimulai dari dasar. Melengkapi mengandung makna kecukupan — memberikan apa yang dibutuhkan agar seseorang siap menjalankan tugasnya.
Paulus menggunakan konsep yang sama ketika menjelaskan tujuan karunia kepemimpinan dalam gereja:
“…untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” — Efesus 4:12 (TB)
Gereja yang hanya “mengumpulkan” jemaat — tanpa mempersiapkan dan melengkapi — adalah gereja yang gagal menjalankan fungsi dasarnya sebagai tubuh Kristus.
“Umat Tuhan”
Bukan “anggota gereja” atau “jemaat” dalam pengertian administratif. “Umat Tuhan” adalah istilah yang membawa beban teologis yang lebih dalam — orang-orang yang dipilih, dikasihi, dan dimiliki Allah, yang kemudian dipersiapkan untuk tujuan tertentu.
“Menjadi Berkat Dimanapun Ia Berada”
Ini adalah bagian yang paling sering diabaikan, tapi paling penting. “Dimanapun ia berada” — bukan hanya di gedung gereja, bukan hanya dalam program gerejawi, bukan hanya pada hari Minggu.
Seorang insinyur Kristen di lokasi proyek IKN Nusantara. Seorang ibu rumah tangga di komplek perumahan Balikpapan Selatan. Seorang mahasiswa di kampus. Seorang pedagang di pasar tradisional. Visi GBIS Sangkakala tidak berhenti di pintu gereja — ia mengikuti setiap jemaat ke tempat mereka menjalani hidup sehari-hari.
Misi: Dipulihkan untuk Memulihkan Orang Lain
Misi GBIS Sangkakala Balikpapan dirumuskan sebagai:
“Dipulihkan untuk memulihkan orang lain sehingga menjadi berkat bagi keluarga, kota, bangsa dan negara.”
“Dipulihkan” — Sebuah Pengakuan, Bukan Klaim Kesempurnaan
Kata pertama dalam misi ini bukan “melayani” atau “menjangkau” — melainkan “dipulihkan.” Ini adalah pengakuan bahwa setiap orang yang ada di dalam gereja — termasuk para pemimpinnya — adalah orang yang sedang dalam proses pemulihan, bukan orang yang sudah sempurna dan siap memperbaiki orang lain dari posisi superioritas.
Pemulihan dalam tradisi Pentakosta mencakup dimensi yang luas: pemulihan relasi dengan Allah, pemulihan dari trauma dan luka masa lalu, pemulihan keluarga yang retak, pemulihan identitas yang hilang dalam tekanan hidup kota besar.
“Untuk Memulihkan Orang Lain” — Arah yang Keluar
Pemulihan dalam misi GBIS Sangkakala bukan tujuan akhir — ia adalah titik awal. Orang yang dipulihkan kemudian menjadi alat pemulihan bagi orang lain. Ini adalah siklus yang tidak berhenti pada diri sendiri.
“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang sama-sama menderita dengan kami.” — 2 Korintus 1:3-4 (TB)
Penghiburan yang diterima bukan untuk disimpan — ia diberikan kembali kepada orang lain yang menghadapi penderitaan serupa. Inilah inti dari “dipulihkan untuk memulihkan.”
“Keluarga, Kota, Bangsa dan Negara” — Lingkaran yang Meluas
Misi ini secara sengaja merentangkan dampak dalam lingkaran yang meluas — dari yang paling dekat hingga yang paling luas:
Keluarga — unit terkecil dan paling fundamental, di mana pemulihan pertama kali terlihat dalam rumah tangga yang lebih sehat, komunikasi yang lebih terbuka, pengampunan yang lebih nyata.
Kota — Balikpapan, dengan segala dinamikanya: pendatang baru yang membutuhkan komunitas, pekerja yang menghadapi tekanan industri, keluarga yang membesarkan anak jauh dari kampung halaman.
Bangsa — Indonesia, dengan keberagaman yang menjadi kekuatan dan tantangan sekaligus.
Negara — entitas politik dan sosial yang lebih luas, di mana doa syafaat dan keterlibatan warga negara yang berintegritas menjadi ekspresi iman.
Bagaimana Visi dan Misi Ini Terlihat dalam Praktik
Visi dan misi yang hidup selalu terlihat dalam keputusan konkret. Beberapa contoh bagaimana visi dan misi GBIS Sangkakala membentuk realita gereja sehari-hari:
Sistem komsel territorial — bukan kebetulan bahwa GBIS Sangkakala memiliki komsel yang tersebar di seluruh wilayah Balikpapan (Tengah, Selatan, Utara, Barat) bukan hanya terpusat di gedung gereja. Ini adalah implementasi langsung dari “dimanapun ia berada” — gereja mendatangi jemaat di wilayah mereka, bukan hanya menunggu jemaat datang.
Program lintas generasi — Arrow Kids untuk anak, SYC dan POG untuk remaja dan pemuda, Kaum Ibu, Kaum Bapak, hingga pelayanan lintas usia lainnya. Mempersiapkan dan melengkapi bukan program eksklusif untuk satu kelompok usia — ia adalah komitmen kepada seluruh siklus hidup jemaat.
Yayasan Bethel Injil Sepenuh — melalui Sekolah Bethel dan Pondok Bina Kasih, misi “memulihkan” diperluas melampaui jemaat gereja sendiri ke anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan perlindungan — sebuah ekspresi nyata dari “berkat bagi keluarga, kota, bangsa.”
Kepemimpinan yang berakar — Pdt. Elim, S.E. yang memimpin sejak 1998 adalah produk langsung dari visi “mempersiapkan dan melengkapi.” Ia adalah jemaat yang dipersiapkan dari dalam, bukan dipinjam dari luar — bukti bahwa proses persiapan dan pelengkapan benar-benar berfungsi.
Visi dan Misi sebagai Undangan, Bukan Hanya Pernyataan
Visi dan misi GBIS Sangkakala bukan hanya pernyataan tentang gereja sebagai institusi — ia adalah undangan kepada setiap orang yang membaca artikel ini.
Jika Anda merasa sedang dalam proses pemulihan — dari luka masa lalu, dari kelelahan kerja, dari kekosongan yang sulit dijelaskan — visi ini berbicara langsung kepada Anda: gereja ini ada untuk mempersiapkan dan melengkapi, bukan untuk menghakimi proses yang masih berjalan.
Dan jika Anda sudah merasakan pemulihan dalam hidup Anda — visi ini juga berbicara: pemulihan itu bukan untuk disimpan sendiri. Ia adalah modal untuk memulihkan orang lain — dalam keluarga, di tempat kerja, di komunitas Balikpapan yang sedang berubah cepat karena IKN Nusantara.
Untuk memahami lebih dalam sejarah yang membentuk visi dan misi ini, baca Mengenal Pdt. Elim, S.E.: Gembala Sidang GBIS Sangkakala Balikpapan. Untuk memahami akar denominasi yang menjadi konteks teologis visi ini, baca Gereja Bethel Injil Sepenuh: Sejarah dan Posisinya di Indonesia.
Ringkasan
Visi GBIS Sangkakala — mempersiapkan dan melengkapi umat Tuhan untuk menjadi berkat dimanapun ia berada — dan misinya — dipulihkan untuk memulihkan orang lain sehingga menjadi berkat bagi keluarga, kota, bangsa dan negara — bukan kalimat yang dipajang untuk terlihat baik. Keduanya adalah penjelasan untuk mengapa gereja ini memiliki komsel yang tersebar di seluruh kota, program untuk setiap kelompok usia, yayasan yang melayani anak-anak di luar jemaat, dan kepemimpinan yang tumbuh dari dalam. 73 tahun perjalanan GBIS Sangkakala adalah cerita tentang dua kalimat ini yang terus dihidupi — satu hari, satu komsel, satu keluarga pada satu waktu.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Visi dan Misi GBIS Sangkakala
Apa visi GBIS Sangkakala Balikpapan?
Visi GBIS Sangkakala Balikpapan adalah “Sebagai Gereja yang Mempersiapkan dan Melengkapi Umat Tuhan untuk Menjadi Berkat Dimanapun Ia Berada” — menekankan bahwa pelayanan gereja tidak berhenti di gedung gereja, melainkan mengikuti jemaat ke setiap tempat mereka menjalani hidup.
Apa misi GBIS Sangkakala Balikpapan?
Misi GBIS Sangkakala Balikpapan adalah “Dipulihkan untuk Memulihkan Orang Lain Sehingga Menjadi Berkat Bagi Keluarga, Kota, Bangsa dan Negara” — sebuah siklus di mana pemulihan yang diterima diberikan kembali kepada orang lain dalam lingkaran dampak yang meluas.
Bagaimana visi dan misi GBIS Sangkakala terlihat dalam praktik sehari-hari?
Terlihat dalam sistem komsel territorial yang tersebar di seluruh wilayah Balikpapan, program lintas generasi dari Arrow Kids hingga Kaum Bapak, Yayasan Bethel Injil Sepenuh yang melayani anak-anak di luar jemaat, dan kepemimpinan gembala sidang yang tumbuh dari dalam jemaat sendiri sejak 1998.
Apa arti “dipulihkan untuk memulihkan” dalam misi GBIS Sangkakala?
Artinya pemulihan yang dialami seseorang — dari luka, trauma, atau kekosongan — bukan tujuan akhir, melainkan titik awal untuk menjadi alat pemulihan bagi orang lain. Prinsip ini berdasarkan 2 Korintus 1:3-4, di mana penghiburan yang diterima diberikan kembali kepada mereka yang menderita serupa.
Siapa yang bisa terlibat dalam mewujudkan visi dan misi GBIS Sangkakala?
Siapa pun yang hadir di GBIS Sangkakala Balikpapan — baik yang sedang dalam proses pemulihan maupun yang sudah mengalami pemulihan dan siap melayani orang lain. Hubungi sekretariat di (0542) 730488 atau info@gbissangkakala.com, atau datangi ibadah Minggu di Jl. Mayjend Sutoyo RT 01 No. 05, Balikpapan Tengah.