“Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.” Ulangan 6:25

Bangsa Israel mengalami sekian banyak pengalaman bersama Allah. Selama empat puluh tahun di padang gurun, mereka melihat mujizat demi mujizat. Mereka mengalami penyertaan Tuhan, menerima makanan dan air, bahkan mengalahkan bangsa-bangsa yang jauh lebih kuat. Mereka yang dahulu adalah budak dan tidak memiliki pengalaman militer dapat mengalami kemenangan, bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena Allah yang menyertai mereka.
Kini mereka telah tiba di dataran Moab, di sebelah timur Sungai Yordan, dan sedang bersiap memasuki Tanah Perjanjian. Sebelum Musa menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua, ia mengingatkan bangsa Israel untuk tetap melakukan perintah Tuhan dengan taat dan setia. Musa tahu bahwa mengalami mujizat tidak berarti seseorang akan selalu taat. Israel pernah melihat pertolongan Tuhan, tetapi juga pernah bersungut-sungut dan berpaling dari-Nya. Karena itu, Musa mengingatkan bahwa perintah Tuhan diberikan untuk kebaikan mereka.
Ketaatan bukan hanya tentang mengetahui apa yang Tuhan perintahkan, tetapi melakukannya dengan setia. Ketika kita memilih untuk menaati firman Tuhan, kita sedang hidup benar di hadapan-Nya. Itulah yang ditegaskan dalam ayat 25: “kita akan menjadi benar” apabila kita melakukan perintah Tuhan dengan setia.

Hari ini kita juga telah mengalami banyak kebaikan Tuhan. Pertanyaannya, apakah pengalaman itu membuat kita semakin taat dan setia? Mari bukan hanya mengingat apa yang Tuhan telah lakukan, tetapi hidup sesuai dengan apa yang  diperintahkan. Sebab ketika kita hidup dengan taat dan setia dihadapanNya, kita hidup sebagai orang yang dibenarkan dan berkenan kepada-Nya. #YS