Daniel 6:21-22 (TB) (6-22) Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu! (6-23) Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”
Daniel 6:21-22 merupakan salah satu puncak narasi iman dalam Perjanjian Lama. Daniel hidup di zaman pemerintahan tiga raja yaitu Nebukadnezer, Belsyasar dan raja Darius. Daniel bukan hanya sekedar hidup di tiga zaman pemerintahan raja tapi Daniel adalah seorang yang dipilih oleh raja-raja tersebut menjadi orang penting dalam setiap pemerintahannya, sekalipun Daniel hadir sebagai kaum minoritas dan hidup ditengah-tengah bangsa-bangsa yang tidak menyembah Allah yang benar. Daniel 6 menceritakan bagaimana Raja Darius dihasut oleh para pejabat tinggi dan wakil raja untuk mengeluarkan larangan bagi siapa pun untuk tidak menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa ataupun manusia kecuali kepada sang raja. Siapa pun yang melanggar akan dilemparkan ke dalam gua singa. Terlepas dari larangan tersebut, Daniel masih tetap menjalankan disiplin rohaninya. Sehari tiga kali ia pergi ke kamar atas dalam rumahnya, di sana ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem. Seperti biasa, Daniel berlutut, berdoa, dan memuji Allah walaupun sudah diterbitkan larangan. Ia tetap melakukan disiplin rohaninya meskipun mengetahui bahwa ia berisiko dihukum dengan cara dilemparkan ke dalam gua singa.
Daniel berharap kepada Tuhan dan ia dibenarkan. Iman dan kesetiaannya membuat ia dibebaskan dari gua singa, dan pada akhirnya, membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.
Daniel menjaga dirinya tetap kudus dihadapan Tuhan dan tidak melakukan kejahatan. Hal ini yang membuat dia sabar dan tetap tenang menghadapi ancaman terhadap hidupnya dan tetap bersikap santun serta rendah hati. #YA