Yesaya 61:3 (TB) untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.
Ketika kita mendengar kata “merdeka”, biasanya yang kita pikirkan adalah bebas dari sesuatu: bebas dari penjajahan, bebas dari tekanan, bebas dari hutang, bebas dari masalah. Tetapi kemerdekaan di dalam Kristus memiliki arti yang lebih dalam. Tuhan tidak hanya memerdekakan kita DARI sesuatu, tetapi Tuhan memerdekakan kita UNTUK sesuatu. Kita dimerdekakan dari dosa supaya hidup dalam kebenaran. Kita dipulihkan dari masa lalu supaya berjalan dalam masa depan yang Tuhan sediakan. Kita dibebaskan dari belenggu supaya kita dapat bertumbuh, berbuah, dan menjadi alat untuk memperlihatkan keagungan Tuhan. Yesaya 61:3 menggambarkan kehidupan yang mengalami karya Tuhan seperti sebuah transformasi: Abu diganti dengan perhiasan kepala, Kain kabung diganti dengan minyak sukacita, Semangat yang pudar diganti dengan nyanyian puji-pujian.
Kemudian Tuhan berkata bahwa mereka akan disebut: “Pohon tarbantin kebenaran, tanaman TUHAN untuk memperlihatkan keagungan-Nya.” Artinya, Tuhan tidak hanya ingin memulihkan hidup kita. Tuhan ingin menumbuhkan hidup kita.
Firman hari ini berbicara tentang orang-orang yang mengalami kehancuran, kesedihan, kehilangan, dan tekanan. Ada abu, Ada kain kabung, Ada semangat yang pudar. Semua itu menggambarkan keadaan manusia yang terluka dan kehilangan harapan. Mungkin dalam kehidupan kita juga pernah ada “abu”. Abu kegagalan, Abu kekecewaan, Abu masalah keluarga, Abu masalah ekonomi, Abu kegagalan dalam pekerjaan, Abu dosa dan kesalahan masa lalu. Kadang-kadang masalahnya bukan Tuhan belum memerdekakan kita. Masalahnya adalah kita masih hidup seolah-olah kita belum merdeka. Tubuh kita sudah berjalan ke depan, tetapi hati kita masih tinggal di masa lalu. Kita masih berkata: “Saya pernah gagal.”, “Saya pernah melakukan kesalahan.”, “Saya pernah disakiti.”, “Saya tidak sehebat orang lain.” Tetapi Tuhan berkata: “Aku mau mengganti abu itu.” Tuhan tidak berkata bahwa abu itu tidak pernah ada. Tetapi Tuhan berkata bahwa abu itu tidak menentukan akhir hidup kita. Bayangkan sebuah tanaman yang baru dipindahkan dari pot yang terlalu kecil, Selama bertahun-tahun akarnya terkurung ketika potnya dibuka dan tanaman itu dipindahkan ke tanah yang luas, sekarang ia sudah bebas. Tetapi kalau akar itu tidak mulai menjalar dan bertumbuh, kemerdekaan itu tidak menghasilkan apa-apa.
Demikian juga kehidupan kita. Kristus sudah membuka “pot” yang membelenggu kita. Dosa tidak lagi harus menguasai kita. Masa lalu tidak lagi harus menentukan kita, Ketakutan tidak lagi harus mengendalikan kita. Sekarang pertanyaannya: Setelah kita dimerdekakan, apakah kita mau bertumbuh? Karena itu: Kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang kita tinggalkan, tetapi tentang menjadi siapa setelah kita dibebaskan. Tuhan tidak berhenti disana, setelah memulihkan kita, Tuhan ingin menumbuhkan kita. Dari orang yang terluka menjadi orang yang memulihkan. Dari orang yang terikat menjadi orang yang merdeka. Dari orang yang lemah menjadi pohon yang kuat. Dari orang yang hanya menerima berkat menjadi orang yang menghasilkan buah. Sampai akhirnya orang melihat kehidupan kita dan berkata: “Tuhan sungguh nyata dalam hidup orang ini.”
Karena itulah tujuan kita: Menjadi “pohon tarbantin kebenaran”, tanaman Tuhan yang memperlihatkan keagungan-Nya.