3 Yohanes 1:4 (TB) Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

Apa yang Membuat Seorang Ayah Bahagia? Bayangkan seorang ayah yang melihat anaknya berhasil meraih gelar sarjana, memenangkan kompetisi besar, atau mendapatkan pekerjaan impiannya. Wajah sang ayah pasti memancarkan rasa bangga yang luar biasa. Pencapaian duniawi anak sering kali menjadi sumber kebahagiaan orang tua.

Namun, rasul Yohanes yang dalam surat ini menempatkan dirinya sebagai bapak rohani bagi jemaat, memiliki standar sukacita yang jauh lebih dalam. Bukan kekayaan, popularitas, atau pangkat anak-anak rohaninya yang membuat hatinya meluap dengan kegembiraan. Sukacita terbesar baginya adalah ketika ia mendengar bahwa anak-anaknya hidup dalam kebenaran.
Apa artinya “hidup dalam kebenaran”? Dalam bahasa aslinya, kata “hidup” disini menggunakan kata yang merujuk pada gaya hidup yang terus-menerus berjalan. Artinya, kebenaran bukan sekadar pakaian yang dikenakan hari Minggu lalu dilepas hari Senin.

Hidup dalam kebenaran berarti:
Integritas: Selarasnya perkataan dan perbuatan dengan firman Tuhan.
Kesetiaan: Tetap mengikut Kristus bahkan ketika situasi di sekitar sedang tidak baik-baik saja.
Kasih yang Nyata: Mempraktikkan iman melalui tindakan kasih sehari-hari.

Sebagai orang yang membapaki, akan sangat bersukacita ketika anak-anaknya hidup dalam kebenaran. Itu adalah upah bagi pelayanan sebagai bapa rohani. Jika seorang bapak rohani seperti Yohanes saja bisa merasakan sukacita mendengarkan kabar baik tersebut, bayangkan bagaimana perasaan Bapa Surgawi kita.

Sering kali kita berpikir bahwa untuk menyenangkan hati Tuhan, kita harus melakukan pelayanan yang megah atau memberikan persembahan yang luar biasa besar. Tentu itu baik, tetapi ayat ini mengingatkan kita pada fondasi yang paling esensial. Tuhan merindukan karakter kita. Bapa Surgawi sangat bersukacita saat melihat kita, anak-anak-Nya, memilih untuk jujur saat ada kesempatan untuk curang, memilih untuk mengampuni saat ego kita ingin membalas dendam, dan memilih untuk taat di tengah dunia yang penuh kompromi.
Apakah keputusan-keputusan kecil kita hari ini, cara kita bekerja, cara kita memperlakukan keluarga, hingga apa yang kita lihat di media sosial, apakah sudah mencerminkan “hidup dalam kebenaran”?

Jadikan kerinduan kita hanya untuk menyenangkan hati Bapa sebagai motivasi utama kita dalam bertindak, bukan sekadar takut dihukum atau ingin dipuji orang lain. Warisan terbesar yang bisa kita berikan kepada anak kandung atau anak rohani kita bukanlah materi, melainkan teladan hidup takut akan Tuhan. Sukacita sejati kita adalah melihat mereka bertumbuh mengasihi Kristus. #NS