Gereja Pentakosta adalah denominasi Kristen yang percaya bahwa karunia Roh Kudus — termasuk berbicara dalam bahasa roh, nubuat, dan kesembuhan ilahi — masih berlaku dan aktif bagi orang percaya hari ini. Di Indonesia, Pentakosta adalah salah satu gerakan Kristen dengan pertumbuhan tercepat, dengan jutaan jemaat tersebar dari Sabang hingga Merauke, termasuk komunitas yang kuat di Kalimantan Timur sejak tahun 1950-an.

Pertanyaan “apa itu gereja Pentakosta” lebih sering muncul dari orang yang ingin memahami perbedaannya dengan gereja lain daripada dari orang yang sudah lama menjadi jemaat. Artikel ini menjawab pertanyaan itu secara tuntas — dari akar sejarahnya, doktrin intinya, hingga seperti apa rasanya beribadah di gereja Pentakosta untuk pertama kali.


Dari Mana Asal Gerakan Pentakosta?

Gerakan Pentakosta modern lahir pada 1 Januari 1901 di Topeka, Kansas, Amerika Serikat — ketika seorang mahasiswi bernama Agnes Ozman mengalami pengalaman berbicara dalam bahasa roh di sebuah sekolah Alkitab. Tapi momentum terbesarnya datang lima tahun kemudian, pada 1906, melalui Kebangunan Rohani Azusa Street di Los Angeles yang dipimpin oleh William J. Seymour — seorang pengkhotbah berkulit hitam yang beribadah di sebuah bekas kandang kuda.

Kebangunan Azusa Street berlangsung selama hampir tiga tahun tanpa henti, siang dan malam. Ribuan orang dari seluruh dunia datang dan pulang membawa api yang sama. Dari situlah gerakan Pentakosta menyebar ke seluruh penjuru bumi — termasuk ke Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia.

Di Indonesia, misionaris Pentakosta pertama tiba pada dekade awal 1900-an. Salah satu buahnya adalah pendirian Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) — denominasi Pentakosta yang berakar dari tradisi Bethel yang dibawa para misionaris Belanda. Pada 15 September 1953, GBIS Sangkakala berdiri di Balikpapan, menjadi salah satu gereja Pentakosta tertua yang masih aktif di Kalimantan Timur hingga hari ini — lebih dari 72 tahun pelayanan tanpa jeda.


Doktrin Inti Gereja Pentakosta: Apa yang Membedakannya?

Semua gereja Kristen berbagi keyakinan dasar yang sama — Alkitab sebagai firman Allah, keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus, kebangkitan, dan kedatangan-Nya kembali. Yang membedakan Pentakosta adalah penekanannya pada karya Roh Kudus yang aktif dan dialami secara langsung.

Baptisan Roh Kudus

Ini adalah doktrin pembeda utama Pentakosta. Gereja Pentakosta percaya bahwa selain keselamatan (lahir baru), orang percaya dapat dan seharusnya mengalami baptisan Roh Kudus — suatu pengalaman terpisah dan nyata di mana Roh Kudus memenuhi seseorang dengan kuasa.

Dasar Alkitabnya ada di Kisah Para Rasul 2:4 — “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”

Dalam tradisi klasik Pentakosta, tanda awal baptisan Roh Kudus adalah berbicara dalam bahasa roh (glossolalia). Namun tidak semua aliran Pentakosta mewajibkan ini sebagai satu-satunya tanda.

Karunia-Karunia Roh

Berdasarkan 1 Korintus 12, gereja Pentakosta percaya bahwa karunia-karunia Roh — nubuat, kesembuhan, mujizat, bahasa roh, penafsiran bahasa roh — masih berlaku dan aktif di zaman ini. Ini yang membedakan Pentakosta dari gereja cessationist yang percaya karunia-karunia tersebut telah berhenti setelah masa para rasul.

Kesembuhan Ilahi

Doa untuk kesembuhan adalah bagian integral ibadah Pentakosta. Dasar teologisnya ada di Yakobus 5:14-15 dan Yesaya 53:5. Bukan berarti gereja Pentakosta menolak dunia medis — melainkan percaya bahwa Allah masih berkuasa menyembuhkan secara ajaib, dan doa adalah respons iman yang sah terhadap penyakit.

Ibadah yang Ekspresif

Jika kamu pernah masuk ke gereja Pentakosta dan terkejut dengan intensitasnya — penyembahan yang panjang, tangan terangkat, doa bersama-sama dengan suara keras, kadang ada yang menangis atau berlutut — itu bukan pertunjukan. Itu ekspresi iman yang diyakini sebagai respons alami terhadap hadirat Allah yang nyata.


Apa Bedanya Pentakosta, Karismatik, dan Injili?

Pertanyaan ini sering membingungkan pendatang baru. Ini penjelasan singkatnya:

Pentakosta adalah gerakan yang lahir dari Azusa Street 1906. Menekankan baptisan Roh Kudus dan karunia-karunia. Denominasi khasnya di Indonesia: GBIS, GPdI, GKKA, GBI.

Karismatik adalah gerakan pembaruan Roh yang masuk ke gereja-gereja arus utama (Katolik, Lutheran, Presbiterian) mulai 1960-an. Percaya pada karunia Roh seperti Pentakosta, tapi tetap berada dalam struktur denominasi induknya. GMS (Gereja Mawar Sharon) adalah contoh gereja dengan nuansa Karismatik kuat di Indonesia.

Injili adalah istilah lebih luas yang mencakup denominasi yang menekankan otoritas Alkitab, keselamatan melalui iman, dan misi penginjilan — tapi tidak selalu menekankan karunia Roh seperti Pentakosta. GKY (Gereja Kristus Yesus) adalah contoh gereja Injili yang kuat di Balikpapan.

Ketiga tradisi ini berbagi fondasi Kristen yang sama. Perbedaannya bukan soal siapa yang lebih benar, melainkan penekanan teologis dan gaya ibadah yang berbeda. Semua ada di Balikpapan dan melayani komunitas yang beragam.


Seperti Apa Pengalaman Ibadah di Gereja Pentakosta?

Untuk orang yang belum pernah masuk gereja Pentakosta, ini gambaran umumnya:

Penyembahan (Worship) biasanya berlangsung 30–45 menit di awal ibadah. Lagu-lagu dipilih untuk membangun suasana dari pujian yang riang ke penyembahan yang dalam. Tidak jarang jemaat menutup mata, mengangkat tangan, atau berdiri sepanjang penyembahan.

Doa bersama sering dilakukan dengan semua orang berdoa sekaligus — terdengar ramai dan intens bagi yang belum terbiasa. Ini bukan kekacauan — ini ekspresi komunal dari kerinduan kepada Allah.

Khotbah umumnya berdurasi 30–50 menit, disampaikan dengan gaya yang dinamis dan sering kali diselingi dengan seruan jemaat. Gembala sidang adalah figur sentral — dan di GBIS Sangkakala, Pdt. Elim Ahok memimpin jemaat sejak 1998 dengan penekanan kuat pada firman yang aplikatif dan kehidupan yang dipulihkan.

Altar call atau undangan respons di akhir ibadah adalah ciri khas Pentakosta — kesempatan bagi jemaat untuk maju ke depan untuk doa, pertobatan, atau menerima layanan doa khusus.


Gereja Pentakosta di Kalimantan Timur: Akar yang Dalam

Kalimantan Timur bukan hanya provinsi dengan sumber daya alam melimpah — ia adalah salah satu wilayah dengan sejarah kekristenan Pentakosta yang panjang di luar Pulau Jawa dan Sulawesi.

Pdt. J.P. Salomonson, misionaris berdarah Belanda, adalah salah satu perintis awal yang menanam iman Pentakosta di Balikpapan. Ketika ia mendirikan cikal bakal GBIS Sangkakala pada 1953, kota ini masih dalam masa rekonstruksi pascaperang. Namun gereja itu bertumbuh, melahirkan pemimpin-pemimpin rohani yang kemudian menyebar ke seluruh Nusantara.

Fakta yang jarang diketahui: banyak gembala dan pekerja gereja Pentakosta yang aktif di Kalimantan hari ini memiliki akar pelayanan yang bisa dilacak ke GBIS Sangkakala Balikpapan. Gereja ini bukan sekadar institusi lokal — ia adalah salah satu induk rohani gerakan Pentakosta di Kalimantan Timur.


Ringkasan

Gereja Pentakosta adalah denominasi Kristen yang menekankan karya Roh Kudus yang aktif — baptisan Roh, karunia-karunia roh, kesembuhan ilahi, dan ibadah yang ekspresif. Lahir dari Kebangunan Azusa Street 1906, gerakan ini menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, dan berakar kuat di Kalimantan Timur melalui perintisan misionaris seperti Pdt. J.P. Salomonson yang mendirikan GBIS Sangkakala Balikpapan pada tahun 1953 — lebih dari 72 tahun yang lalu.

Untuk memahami lebih dalam bagaimana iman Pentakosta hidup dalam keseharian, baca juga Iman dalam Keseharian: Panduan Hidup Kristen yang Nyata di Tengah Kota dan Gereja di Balikpapan untuk Pendatang Baru: Panduan Lengkap 2026.