Kolose 1:24 (TB) Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.
Paulus sangat memahami bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus, dan Yesus adalah Kepala-Nya. Ketika Paulus ditangkap dalam perjalanannya ke Damsyik, Yesus tidak bertanya, “Mengapa engkau menganiaya jemaat-Ku?”, melainkan “Mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kisah Para Rasul 9:4).
Karena jemaat dan Kristus adalah satu kesatuan, maka:
Penderitaan yang dialami Paulus di dalam penjara saat menulis surat ini dianggap sebagai persekutuan dalam penderitaan Kristus.
Kristus turut “menderita” secara mistis di dalam dan melalui “tubuh-Nya” yaitu orang-orang percaya yang sedang dianiaya di dunia.
Tentu saja secara manusia, penderitaan/penganiayaan bukanlah sesuatu yang menyenangkan namun dari nats ini kita akan melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Ya, Paulus justru bersukacita. Jelas bukan tanpa alasan.
Mengapa Paulus justru bersukacita di dalam penjara? Ada dua alasan utama:
1. Bukan Demi Diri Sendiri. Paulus tidak menderita karena kesalahan/kejahatannya sendiri, melainkan “karena kamu” (demi jemaat) agar mereka teguh berdiri dalam iman.
2. Menjadi representasi Kristus. Penderitaan fisik yang dialami Paulus menjadi tanda nyata dari kasih Kristus yang rela menderita bagi jemaatNya. Paulus melihat luka-luka ditubuhnya sebagai kehormatan karena boleh menyerupai Gurunya.
Renungan hari ini mengajarkan kita bahwa penderitaan karena mengikut Yesus atau demi kebaikan orang lain, bukanlah tanda kutukan atau kegagalan.
Ketika kita mengalami penolakan, kesulitan, atau pengorbanan demi membagikan kasih Tuhan atau melayani sesama, kita sebenarnya sedang mengambil bagian dalam memperluas kerajaan-Nya. Kita sedang melanjutkan estafet penderitaan yang diperlukan agar dunia bisa melihat dan merasakan kasih Kristus secara nyata melalui hidup kita.
Hanya kedewasaan yang membuat seseorang dapat mengasihi dan rela berkorban bagi orang yang dikasihinya.
Rasul Paulus menjadi Bapa Rohani dan rela menderita untuk anak-anak rohaninya. Menjadi teladan buat kita, sebagai Bapa Rohani yang dewasa. #EL