Efesus 4:14 (TB) Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

Jika Saudara memperlihatkan selembar uang Rp100.000 dan sebuah permen manis kepada anak balita, hampir pasti ia akan memilih permen. Mengapa? Karena anak-anak belum memiliki kapasitas untuk menimbang nilai yang sesungguhnya. Mereka hanya melihat apa yang menarik di depan mata, instan, dan manis saat itu juga.

Sayangnya, banyak orang Kristen yang secara usia biologis sudah dewasa, namun secara rohani masih berperilaku seperti anak-anak. Akibatnya, mereka menjadi target empuk yang sangat mudah diperdaya oleh rupa-rupa tawaran dunia dan pengajaran yang keliru.

Melalui Efesus 4:14, Rasul Paulus membongkar penyebab utama mengapa iman seorang percaya bisa begitu rapuh dan mudah dimanipulasi:
Digerakan oleh emosi, bukan kebenaran.
Orang yang mudah diperdaya biasanya hidup berdasarkan perasaan. Jika suasana hati sedang baik, mereka semangat beribadah. Jika sedang ada masalah, mereka langsung meragukan kasih Tuhan. Ketika emosi kita tidak dijangkar pada Firman Tuhan, kita akan selalu menjadi korban dari situasi luar.
Mengikuti tren tanpa menguji.
Di era informasi digital, “angin pengajaran” berhembus sangat kencang. Banyak orang Kristen mudah kagum pada pembicara yang pandai bersilat lidah, kutipan-kutipan motivasi yang dibungkus ayat Alkitab, atau bahkan teologi yang hanya menjanjikan kemakmuran tanpa salib. Kita mudah diperdaya karena kita malas menguji apakah hal tersebut selaras dengan seluruh isi Alkitab.
Buta terhadap agenda dunia.
Kata “permainan palsu” dalam teks aslinya (kybeia) merujuk pada permainan judi dadu yang telah dicurangi. Paulus mengingatkan bahwa penyesatan di dunia ini sering kali direncanakan dengan sangat rapi, sistematis, dan licik. Jika kita tidak waspada, kita sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang terlihat menguntungkan padahal mematikan.

Tuhan tidak ingin kita selamanya menjadi korban penipuan rohani. Untuk memutus siklus “mudah diperdaya”, kita harus mengambil langkah konkret:
Naik Kelas dari “Susu” ke “Makanan Keras”:
Berhentilah menjadi Kristen yang pasif yang hanya disuapi seminggu sekali. Mulailah mengkonsumsi Firman Tuhan secara mandiri melalui pemahaman Alkitab yang mendalam.
Miliki Sahabat Rohani yang Menjaga:
Orang yang menyendiri adalah orang yang paling mudah disesatkan. Kita butuh komunitas gereja, kelompok sel, atau mentor rohani yang berani menegur ketika langkah kaki kita mulai melenceng.
Andalkan Roh Kudus untuk Karunia Membedakan Roh:
Alkitab mengajarkan kita untuk waspada. Mintalah kepekaan dari Roh Kudus setiap hari agar kita bisa melihat motif tersembunyi di balik setiap ajaran atau tawaran hidup yang datang kepada kita.

Menjadi orang Kristen yang tulus bukan berarti menjadi orang Kristen yang naif dan bodoh. Tuhan rindu kita memiliki hati yang murni seperti merpati, tetapi memiliki pemikiran yang cerdik seperti ular. Jangan biarkan diri kita terus-menerus diperdaya oleh kepalsuan dunia. Berakarlah di dalam Kristus, dan jadilah dewasa! #KS