Kolose 3:13 (TB) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Dalam perjalanan hidup, luka sering kali datang dari orang-orang terdekat. Rasa kecewa, dikhianati, atau disakiti bisa menumbuhkan akar pahit yang disebut dendam. Namun, Rasul Paulus dalam Kolose 3:13 memberikan sebuah standard yang radikal bagi kita: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain…sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.”
Mengapa kita harus mengampuni?
Jawabannya bukan karena orang tersebut layak mendapatkannya, melainkan karena Allah telah lebih dulu bekerja di dalam kita.
1. Pengampunan adalah bukti kasih
Kasih sejati tidak hanya dirasakan saat situasi menyenangkan. Bukti terbesar dari kasih adalah ketika kita mampu melepaskan pengampunan. Allah mengasihi kita dengan begitu luar biasa sehingga Dia tidak lagi memperhitungkan pelanggaran kita. Jika sumber kasih itu ada di dalam hati kita, maka pengampunan seharusnya mengalir keluar secara alami.
2. Standard Kristus, bukan standard dunia.
Dunia mengajarkan “mata ganti mata” tetapi Kristus mengajarkan pengorbanan. Kita dipanggil untuk mengampuni “sama” seperti Tuhan.” Mengingat betapa besarnya dosa kita yang telah dihapuskan oleh darah Kristus, adalah kunci untuk melunakkan hati yang keras. Kita tidak mungkin mampu mengampuni dengan kekuatan sendiri; kita butuh kasih Tuhan yang memampukan.

Menyimpan dendam ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Hari ini, lepaskanlah beban itu. Ingatlah bahwa Tuhan telah menghapuskan dosa-dosa kita tanpa syarat. Mari kita jadikan pengampunan sebagai gaya hidup, sehingga dunia melihat kasih Kristus terpancar nyata melalui sikap kita.

“Tuhan, ajarilah kami memiliki hati yang sabar dan penuh kasih. Mampukan kami mengampuni dengan tulus, sama seperti Engkau mengampuni kami. Amin” #A