Efesus 5:2 (TB) dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Kisah nyata yang dengan luar biasa menggambarkan “korban yang harum” adalah kesaksian Maximilian Kolbe, seorang imam Katolik di kamp konsentrasi Auschwitz selama Perang Dunia II.
Pada tahun 1941, seorang tawanan melarikan diri, dan sebagai hukumannya, penjaga kamp memilih sepuluh orang secara acak untuk mati kelaparan di bunker maut. Salah satu pria yang terpilih berteriak histeris, menangisi nasib istri dan anak-anaknya. Mendengar itu, Kolbe melangkah maju dengan tenang dan menawarkan dirinya untuk menggantikan pria tersebut.
Kolbe tidak mengenal pria itu secara mendalam, namun ia memilih untuk menyerahkan nyawanya agar pria itu bisa hidup. Di dalam bunker maut, alih-alih kutukan, yang terdengar adalah nyanyian pujian dan doa yang dipimpin oleh Kolbe hingga ia menghembuskan napas terakhir. Pengorbanannya menjadi aroma yang sangat harum di tengah kegelapan kamp tersebut, sebuah bukti nyata bahwa kasih Kristus mampu melampaui ketakutan akan maut.
Dalam tradisi Perjanjian Lama, umat Tuhan membawa hewan kurban ke bait Allah untuk dibakar sebagai pendamaian dosa. Alkitab sering menggambarkan asap yang naik dari mezbah itu sebagai “bau yang menyenangkan” atau “aroma yang harum” bagi Allah. Namun, Rasul Paulus dalam Efesus 5:2 membawa pemahaman ini ke tingkat yang jauh lebih dalam. Aroma yang harum di hadapan Allah bukanlah lagi tentang darah lembu atau domba, melainkan tentang hidup yang dijalani dalam kasih.
Standar utama dari “korban yang harum” ini adalah Kristus Yesus. Ia tidak sekadar memberikan sesuatu yang Ia miliki, melainkan Ia menyerahkan diri-Nya sendiri. Penyerahan diri Kristus adalah bentuk kasih yang paling murni karena tidak didorong oleh kepentingan pribadi, melainkan oleh ketaatan kepada Bapa dan belas kasihan kepada manusia.
Ketika kita memilih untuk mengasihi sesama terutama saat itu terasa sulit atau menyakitkan, hidup kita sedang memancarkan aroma surgawi yang sampai ke takhta Allah.
Mengapa kasih disebut sebagai korban? Karena kasih yang sejati selalu menuntut harga yang harus dibayar. Mengasihi berarti bersedia mengorbankan kenyamanan untuk membantu yang lemah, mengorbankan harga diri untuk meminta maaf atau mengampuni, serta mengorbankan waktu untuk mendengarkan mereka yang terabaikan. Tanpa adanya pengorbanan, kasih hanyalah sekadar kata benda atau perasaan emosional yang dangkal.
Dunia saat ini dipenuhi dengan “aroma” kebencian, mementingkan diri sendiri, dan dendam. Namun, sebagai anak-anak terang, kita dipanggil untuk menjadi pembawa “parfum” Kristus melalui tindakan kasih kita. Setiap kali kita menunda keinginan pribadi demi kepentingan orang lain, atau ketika kita tetap berbuat baik kepada mereka yang menjahati kita, kita sedang meletakkan persembahan di atas mezbah Allah. Persembahan itulah yang disebut sebagai korban yang harum. Allah tidak mencari kemegahan lahiriah, Ia mencari hati yang hancur oleh kasih dan tangan yang terulur untuk memberi.
Kasih adalah korban yang harum dan berkenan bagi Allah. Kita diingatkan bahwa hidup kita adalah sebuah mezbah; biarlah setiap tindakan kasih yang kita lakukan hari ini menjadi persembahan yang menyenangkan hati Tuhan.
Mari kita renungkan: Aroma apa yang dipancarkan oleh hidup kita hari ini? Apakah bau egoisme, ataukah keharuman kasih Kristus yang rela berkorban? #MST