1 Yohanes 3:16 (TB) Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan Gladys Aylward, seorang wanita sederhana asal Inggris yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani di Tiongkok pada masa perang.

Ketika tentara Jepang menginvasi, Gladys tidak melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Sebaliknya, ia mempertaruhkan nyawanya dengan memimpin hampir 100 anak yatim piatu berjalan kaki melintasi pegunungan yang berbahaya selama 27 hari untuk mencapai tempat yang aman. Ia menderita luka-luka, kelelahan hebat, dan kekurangan gizi. Baginya, “menyerahkan nyawa” bukan sekadar teori, melainkan pilihan setiap jam untuk mendahulukan keselamatan anak-anak tersebut di atas keselamatannya sendiri. Gladys melakukan itu karena ia telah lebih dahulu dikuasai oleh kasih Kristus yang telah menyelamatkannya.

Dunia sering kali mendefinisikan kasih berdasarkan perasaan, kecocokan, atau keuntungan timbal balik. Kita mengasihi karena kita merasa nyaman, atau karena orang tersebut baik kepada kita. Namun, firman Tuhan melalui 1 Yohanes 3:16 meruntuhkan definisi kasih yang dangkal tersebut dan memperkenalkan sebuah Standar Kasih yang jauh melampaui logika manusia: Kasih yang bersifat pengorbanan total.

Rasul Yohanes tidak memulai dengan instruksi tentang apa yang harus kita lakukan, melainkan dengan apa yang telah Kristus lakukan. Standar kasih Allah bukan diukur dari kata-kata manis, melainkan dari tindakan nyata di atas kayu salib. Kristus menyerahkan nyawa-Nya, ini merupakan pemberian yang paling berharga untuk kita seluruh umat manusia saat kita masih berdosa. Inilah tolak ukur kasih yang sesungguhnya: Kasih adalah kerelaan untuk kehilangan agar orang lain beroleh keuntungan.

Tantangan bagi kita hari ini adalah kata “wajib”. Yohanes menuliskan bahwa karena kita telah menerima kasih yang begitu besar, kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Tentu saja, dalam konteks modern, “menyerahkan nyawa” tidak selalu berarti mati secara fisik di tiang gantungan atau medan perang. Menyerahkan nyawa berarti mematikan ego, melepaskan kenyamanan, memberikan waktu yang berharga, atau mengampuni mereka yang sebenarnya tidak layak diampuni.

Kasih Kristus bukanlah sekadar inspirasi moral, melainkan kuasa yang menggerakkan. Saat kasih Kristus menguasai hati kita, standar hidup kita berubah. Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari hubungan ini?” melainkan “Apa yang bisa saya berikan untuk mencerminkan Kristus kepada orang ini?”. Mengasihi dengan standar Allah berarti siap untuk terluka, siap untuk memberi tanpa pamrih, dan siap untuk terus berjalan ekstra satu mil bagi sesama.

Maksud dari renungan hari ini adalah untuk menyadari bahwa Kasih Kristus yang menguasai kita menjadikan kita memiliki teladan dan standar dalam mengasihi. Kita tidak lagi hidup di bawah standar dunia yang egois, melainkan di bawah standar salib yang penuh pengorbanan.

Mari kita renungkan: Apakah standar kasih kita masih bergantung pada perlakuan orang lain, atau sudah didasarkan pada apa yang Kristus lakukan bagi kita? Hendaklah kasih Kristus menjadi kompas dalam setiap interaksi kita hari ini. #MST